Hallobogor.com, Cisarua – Warga menilai penanganan bencana alam longsor dan banjir di wilayah selatan Kabupaten Bogor lamban. Banyak warga korban bencana yang mengungsi secara tercecer, belum adanya data valid korban bencana, dan sebagian besar korban mengaku belum menerima bantuan tanggap darurat.

Di sejumlah lokasi bencana, warga berusaha secara swadaya mendirikan posko dan dapur umum. Sedangkan bagi warga yang rumahnya ambruk dan tak lagi bisa ditempati memilih mengungsi di masjid, mushola, majelis taklim, di rumah sanak saudara, atau di tetangga terdekat.

Hal ini seperti diakui Kasi Kesra Pemdes Tugu Utara, Agus Kurniawan. “Warga swadaya mendirikan posko bencana. Untuk wilayah Puncak khususnya di Tugu Utara belum ada dari BPBD. Yang bergerak hanya komponen masyarakat desa yang ada seperti ecovilage dan para relawan,” ujarnya.



Agus menjelaskan, sebagian rumah warga ambruk seperti yang dialami Ustad Rusdi di Kampung Cisuren, Tugu Utara. Rumahnya hilang dan tak ada benda yang bisa diselamatkan akibat tergerus air bah. Beberapa rumah lainnya di sekitaran rumah Ustadz Rusdi mengalami hal serupa sehingga harus direlokasi. 

Di Kampung Cisuren, sedikitnya 125 jiwa dan 35 Kepala Keluarga harus mengungsi di Majelis Hidayatul Akmaluddin dan Vila Efata. Sementara di Kampung Sukatani, korban mengungsi di rumah warga. 

“Saat ini tertacat 153 jiwa yang harus mengungsi terbagi tiga titik. Paling banyak pengungsi di Cisuren,” kata Agus.

Kondisi serupa terjadi di Kampung Legok Nyenang, Desa Leuwimalang, Kecamatan Cisarua. Sedikitnya lima unit rumah warga rusak berat dan satu di antaranya benar-benar ambruk. 

“Kami telah berupaya menampung warga yang rumahnya hancur. Tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian materil yang dialami warga cukup besar,” ujar Kepala Desa Leuwimalang, Yayan Nuriyana. (dang)