Hallobogor.com, Bogor – Pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bogor untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati 2018-2023 masih berlangsung. Meski, pencoblosan telah dilaksanakan pada Rabu (27/6/2018).

Pertarungan masih sengit lantaran kubu paslon nomor 2 Ade Yasin-Iwan Setiawan dan nomor 3 Jaro Ade-Ingrid Kansil sama-sama mengklaim memenangkan kontestasi lima tahunan ini. Sementara selisih hasil rekapitulasi suara yang dipublis kedua pihak sangat tipis.

Di balik ketegangan yang terjadi, ada pemadangan janggal di depan posko pemenangan pasangan calon bupati Ade Yasin-Iwan Setiawan pada tanggal 28 Juni 2018. Ada beberapa karangan bunga ucapan selamat atas kemenangan pasangan ini dalam Pilkada Kabupaten Bogor padahal hasil rekapitulasi penghitugan KPU masih berjalan sekitar 22 %.

Hal ini dikatakan janggal karena dalam karangan bunga itu tertulis jabatan negara yaitu Menteri Agama RI dan Watimpres RI. 

Peristiwa ini membuat aktivis pemuda dan mahasiswa di Kabupaten mempertanyakan nilai etik Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dan Anggota Watimpres RI Suharso Monoarfa.

Roza, aktivis mahasiswa Universitas Djuanda mengkritisi hal ini. “Jika benar karangan bunga tersebut betul dikirim oleh pak Menteri Agama dan Dewan Pertimbangan Presiden, maka kita harus kritisi kedua orang tersebut karena tidak memberikan pelajaran etika berdemokrasi yang baik bagi pemuda !!!” ujar Roza yang juga ketua OKP besar di Kabupaten Bogor.

“Pak Lukman Hakim Saifudin dan Suharso Monoarfa itu kan mantan aktivis mahasiswa dan kini mejadi pejabat tinggi negara. Saya tidak percaya mereka yang mengirimkan karangan bunga itu ke gedung pemenangan Ade Yasin. Saya kira ini sengaja dilakukan untuk membuat opini di masyarakat,” tambahnya.

Roza menegaskan, seharusnya kalau benar Lukman yang mengirimkan karangan bunga ucapan selamat lebih baik sebagai Ketua Majelis Pakar PPP. Begitupun Suharso Monoarfa baiknya sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PPP.

“Kalau ini pas. Karena Ade Yasin dan mereka satu partai,” tandasnya.

“Pejabat Tinggi Negara seharusnya paham akan hal yang saya jelaskan di atas !” seru Roza. Oleh karena itu Roza meminta agar kedua pejabat itu mengklarifikasi pengiriman karangan bunga ini,” tandasnya.

Jika tidak ada klarifikasi hal ini, Roza mengatakan dirinya bersama teman-teman aktivis mahasiswa se-Kabupaten Bogor akan datang dan melakukan aksi ke Kantor Kementerian Agama dan Kantor Watimpres di Jakarta.

“Klarifikasi ini menjaadi penting agar hal ini tidak menjadi preseden buruk dalam proses berdemokrasi di Indonesia yang kita cintai bersama. Pejabat seharusnya memberikan contoh yang baik untuk anak muda,” pungkasnya. (cep)