Hallobogor.com, Bogor – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor belum lama ini merampungkan riset perilaku pemilih di Kota Bogor tahun 2014, baik Pilkada, Pileg, maupun Pilpres.

Riset ini lebih mengedepankan orientasi para pemilih dalam menentukan calon pilihannya.

Dalam melaksanakan riset tersebut, KPU Kota Bogor memilahnya melalui pendekatan tiga teori.

Pertama pendekatan sosiologis, di mana pemilih memilih calon jagoannya berdasarkan faktor lingkungan, ada hubungan keluarga, ada hubungan pertemanan, atau ada kedekatan tempat tinggal dengan calon pilihannya.

Kedua pendekatan psikologis. Di mana pemilih memilih calonnya karena ada kedekatan dengan partai tertentu atau adanya kesamaan visi misi atau ideologi.

Ketiga, pendekatan rasional choice. Di mana pemilih dalam memilih calonnya lebih dipengaruhi isu-isu yang sedang berkembang misalnya kasus korupsi yang sedang membelit politisi tertentu, atau memilih lantaran program-program yang ditawarkan parpol atau calon dianggapnya lebih realistis.

Pemilih tipe ini lebih bersifat kritis dan cerdas. Nah, bagaimana hasil riset KPU tersebut?

“Hasilnya cenderung lebih banyak ke pemilih rasional. Persentasenya memang tidak terlalu signifikan, antara 50 sampai 60 persen,” ungkap Ketua KPU Kota Bogor, Undang Suryatna, kepada Hallobogor di kantornya, Jalan Loader, Baranangsiang, Senin (24/8).

Undang menjelaskan, kualitas dan figur calon atau pimpinan parpol juga menjadi perhatian atau sangat mempengaruhi perilaku pemilih.

Menurutnya, riset yang dilakukan bisa menjadi acuan dan panduan bagi stakeholders, yakni masyarakat pemilih, pemerintah, parpol, akademisi, pemerhati, dan banyak pihak lainnya.

“Bayangkan saja, dalam satu daerah pemilihan (dapil) saja masyarakat pemilih disodorkan 300 calon yang harus dipilih.

Hitungannya, di Kecamatan Bogor Selatan saja ada 8 kursi tersedia per parpol dikali 12 parpol se-Kota Bogor, sudah berapa? Di Kecamatan Bogor Timur Tengah 11 kursi, DPRD provinsi 7 kursi, DPRRI 9 kursi, dan DPD 36,” bebernya menyontohkan.

Undang sendiri berharap pemilih dapat berperilaku rasional, kritis, dan cerdas. Selain itu lahir calon-calon pemimpin yang berkualitas serta amanah.

Masih kata Undang, menangkap fenomena pemilih di Kota Bogor tersebut KPU berharap ada peningkatan pendidikan politik baik bagi kader atau masyarakat, yang salahsatunya menjadi tugas parpol.

“Kami juga mengimbau pendidikan politik dan pengkaderan serta peka terhadap kepentingan masyarakat dilakukan oleh parpol secara kontinuitas, tak hanya ramai pada saat musim Pemilu,” pintanya.

Perilaku lainnya hasil riset tersebut, disebutkan bahwa tingkat partisipasi atau kehadiran pemilih di Kota Bogor yang tinggal di perumahan-perumahan rendah pada saat Pilkada dan Pileg, akan tetapi tinggi pada Pilpres.

“Hasil riset kami ini akan kami refleksikan pada hari Kamis tanggal 27 Agustus 2015 di kantor KPU Kota Bogor. Kami akan mengundang akademisi dan pemerhati.

Kami berharap ada masukan soal fenomena pemilih ini dan bisa melahirkan sejumlah rekomendasi,” jelasnya.(cep/dani)