Hallobogor.com, Cisarua – Langkah manajemen Taman Safari Indonesia (TSI) yang akan memperluas kawasan konservasinya dengan memanfaatkan lahan yang sudah dikuasainya sejak lama, kini tinggal menunggu hasil kajian yang dilakukan oleh beberapa intansi di Kabupaten Bogor. Badan Perijinan Terpadu (BPT), merupakan intansi yang paling berwenang untuk mengeluarkan ijin tersebut. Karena, untuk perluasan lahan diwilayah Puncak, sangat rawan terhadap sumber resapan air.

Untuk hal ini, legal formal TSI, Ambarwati mengatakan, untuk perluasan yang akan dilakukan pihak TSI pihaknya tidak akan merusak kondisi lingkungan tersebut. Kawasan itu akan tetap dipertahankan sebagai tangkapan air, dengan menghutankan arelanya. “Tidak akan dirubah itu lingkungan, pepohonan yang ada akan dipertahankan, dan jika kurang, akan terus dihijaukan. Niatan kami memperluas itu, kini sudah dalam pemabahasan di BPT. Dan kini kami menunggu hasil kajian tersebut,” tandas Ambarwati seperti dikutip Halloapakabar.com.

Lebih lanjut Ambar mengatakan, dikawasan yang luasnya hampir 100 hektar itu nantinya akan ditempatkan beberapa jenis hewan. Salah satunya, adalah Panda. “Si Panda nantinya akan menempati areal yang baru. Dan untuk dia, dibutuhkan sekitar 30 hektaran,” imbuhnya.

Sementara itu, keberadaan areal yang dimaksud, Ambar mengemukakan, selain tengah dibahas di BPT, juga sudah dilakukan pembahasan dengan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP), “Tanah yang akan dijadikan perluasan itu tidak termasuk ke areal TNGP maupun PTPN VIII. Lahan itu, merupakan eks perkebunan Cisarua Selatan yang sejak lama sudah kami bebeskan. Jadi, untuk keberadaan lahan tidak ada permasalahan,” pungkasnya. (dang)