Hallobogor.com, Bogor – Unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polsekta Bogor Utara, Jum’at (16/11/18), menggelar rekonstruksi ulang kasus penganiayaan dan penyiksaan hingga berujung kematian terhadap balita berusia 2 tahun 6 bulan berinisial BIS di Mako Polsekta Bogor Utara.

Seperti diberitakan pada edisi Minggu (14/10/2018), BIS menghembuskan nafas terakhir usai dianiaya oleh tersangka Gian Navaro Gunawan alias Dion di salah satu kontrakan yang berlokasi RT 05/04, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Setelah memeragakan 31 adegan dalam rekonstruksi, terungkap bahwa sebelum kematian BIS ditendang pada bagian perutnya hingga terpental dan menghantam tembok. Selain itu, bayi malang tersebut juga sempat dijejali tiga butir cabai dan dipukul sendok di bagian perut dan kepala bagian belakang.



Saat memeragakan adegan ketiga, wajah pelaku Gian tiba-tiba pucat sehingga ia harus digantikan oleh peran pengganti. Sedangkan salah seorang tersangka lainnya, yakni Desi Mayangsari yang merupakan ibu korban tetap melakukan rekonstruksi hingga selesai. Gian hanya duduk dengan kondisi tangan terborgol sambil memegangi kepalanya di ruang interogasi.

“Awalnya tersangka memperagakan sendiri tersangka yang laki-laki GN tapi kemudian adegan ketiga GN nampaknya sakit,” ujar Kepala Unit Reskrim Polsek Bogor Utara, Ipda Herwanda Maribaya SH kepada wartawan.

Ipda Herwanda menyatakan bahwa dalam rekonstruksi yang memeragakan 31 adegan itu bertujuan untuk mengungkap fakta yang sebenarnya dalam kasus penyiksaan berujung kematian itu. “Semua adegan sesuai dengan yang ada di berita acara pidana (BAP),” ungkapnya.

Ia menegaskan, ibu korban dijadikan tersangka lantaran melakukan pembiaran atas penganiayaan yang menyebabkan kematian. “Dia melakukan pembiaran terhadap penganiayaan yang dilakukan kekasihnya, makanya kami jadikan tersangka,” kata Ipda Herwanda.

Herwanda menyatakan bahwa pelaku dijerat dengan Pasal 76 junto Pasal 80 ayat 3 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun atau denda paling banyak Rp3 miliar.

Sementara saat saat disinggung terkait penyebab kematian korban. Ipda Herwanda mengaku masih menunggu hasil autopsi. “Kalau soal itu kami masih menunggu keterangan ahli dan hasil autopsi,” katanya.

Sementara salah seorang saksi mata yang juga pemilik kontrakan, Loka mengatakan bahwa kedua tersangka mengontrak di kontrakannya kurang lebih tiga pekan. “Pertama si Gian datang mau ngontrak bilangnya untuk anak dan istri. Saat pertama kali datang pun BIS dalam kondisi lebam di pipi. Ibunya bilang, korban sebelumnya jatuh di tempat sebelumnya,” katanya.

Loka mengaku bahwa saat pertama kali datang Gian mengaku bekerja di luar kota. “Ngakunya kerja di luar kota ngurusin proyek. Dan memang jarang terlihat di kontrakan,” ucapnya.

Loka mengatakan bahwa selama tiga pekan tinggal dikontrakannya, kedua tersangka cenderung tertutup dengan penghuni sekitar. “Tertutup orangnya, jarang interaksi. Selama ini kami juga tidak pernah dengar ada suara gaduh dari kontrakan yang mereka tempati,” jelasnya.

Lebih lanjut, Loka menceritakan, pada waktu itu sekitar pukul 08.30 WIB, ibu korban tiba-tiba turun ke bawah, dan menanyakan rumah sakit terdekat, dengan alasan ingin memeriksa kondisi kesehatan BIS lantaran jatuh dari kamar mandi. “Pas dia nanya kemudian saya jawab, ‘ke Azra saja’. Lantas saya sempat pegang kepalanya untuk memeriksa apakah ada benjolan, ternyata anaknya demam tinggi. Selain itu, wajah BIS juga tampak memerah sambil merintih seperti sedang menahan sakit. Tak lama kemudian, ibu korban pergi karena pesanan Taxi online sudah datang,” ungkapnya.

Loka menambahkan bahwa BIS merupakan anak periang dan sering bermain dengan teman sebayanya. Ipun mengaku geram saat mendengar kabar bahwa BIS tewas. (dns)