Hallobogor.com, Bogor – Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dijaring Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) saat melakukan razia di beberapa jalan protokol di Kota Hujan, kemarin (28/06/18) siang. 

Azrin Samsudin selaku Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor, mengatakan, selain didata dan diberikan pengarahan, anak-anak dan para pengemis yang sebagian besar mencari nafkah di jalan dengan mengamen itu juga dilakukan tes kesehatan. Hal itu terkait kemungkinan adanya penyebaran virus seperti HIV Aids, yang menjangkit anak-anak jalanan.

“Tiap yang dijaring juga kami lakukan tes kesehatan, misalnya kemungkinan adanya virus HIV Aids, atau ketergantungan terhadap obat terlarang. Sering ditemui anjal (anak jalanan, red) biasanya itu napza, malah yang anak-anak kecil ini menghirup lem. Nah pada saat tes kesehatan, di darahnya ketahuan. Makanya kami juga gandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) saat razia,” ujar Azrin.

Jika nantinya ada yang positif ketergantungan obat misalnya, lanjut dia, akan segera dikirim ke yayasan atau Rumah Sakit (RS) yang menangani soal narkoba. “Termasuk yang kami jaring WTS, ada penyakit apa. Makanya kami libatkan juga dinas kesehatan. Yang positif? Kirim ke rehabilitasi, misalnya ketergantungan obat,kamu rujuk dan tidak kami biarkan,” ucapnya.

Selain itu, Dinsos Kota Bogor mencatat, ada penurunan jumlah anak jalanan yang terjaring pascalebaran tahun ini, dengan tahun sebelumnya. Kurang lebih ada penurunan angka lima hingga 10 persen. 

“Kegiatan razia kan serentak di semua daerah. Mereka memanfaatkan momentum keramaian lebaran. Sebagian dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Depok. Pasca lebaran, angka anak jalanan berkurang drpada tahun kemarin, penurunannya 5-10 persen,” imbuhnya.

Sementara Kepala bidang Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) Siti Nursarah yang biasa disapa Bu Nunuy, menambahkan, setelah dijaring dan didata anak jalanan (Anjal) diberikan kesempatan jika ingin mendapat pelatihan keterampilan dari Kementerian Sosial (Kemensos) di Jakarta dan Bekasi selama tiga sampai enam bulan. Dengan begitu, anak-anak bisa keluar dari jalanan dan menghasilkan sesuatu yang lebih kreatif dan bernilai ekonomi. Hal itu dilakukan secara persuasif terus menerus agar jumlah anak jalanan di Kota Bogor bisa berkurang. 

“Itu tugas kami. Misalnya soal sampah, ada dari Kementerian Lingkungan Hidup (LH), pelatihan produksi sampah menjadi biji plastik, ada nilai ekonomis dan peningkatan keterampilan, tidak hanya cacah tapi memproduksi,” pungkasnya. (dns)