Hallobogor.com, Bogor – Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (Puslit Biologi LIPI) berkomitmen melindungi keanekaragaman hayati Indonesia guna pelestarian sampai ratusan tahun ke depan sekaligus menghadapi revolusi Industri 4.0.

“Adanya pembangunan yang dilakukan secara terus-menerus di Indonesia berdampak pada kerusakan lingkungan dan ekosistem yang di dalamnya banyak keanekaragaman hayati,” kata Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Atit Kinanti, pada Simposium Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional: “Pengelolaan Kehati Indonesia Menyongsong Revolusi Industri 4.0 dan SDGs” di Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/11/2019).

Simposium ini diselenggarakan pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2019 setiap tanggal 5 Nopember.



Menurut dia keanekaragaman hayati (kehati) ada yang dapat terus-menerus beradaptasi tapi juga ada yang telah punah, apalagi karena adanya kerusakan lingkungan. Puspa dan satwa endemik yang tidak ditemukan lagi, berarti sudah punah.

“Misalnya, kayu hitam dan harimau bali, saat ini sudah punah,” katanya.

Guna melestarikan, keanekaragaman hayati di Indonesia, baik puspa maupun satwa, menurut Atit, LIPI melestarikannya dalam bentuk sampel awetan atau spesimen yang ditempatkan di museum.

“Untuk spesimen puspa disimpan di museum Herbarium Bogoriense dan untuk spesimen satwa disampan di musem Zoologi Bogoriense,” katanya.

Ia menjelaskan, kedua museum ini sudah ada sejak sekitar 100 tahun lalu, yang menunjukkan LIPI memberikan kepedulian untuk pengembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberikan mata ajaran bagi generasi penerus.

Menurut dia Puslit Biologi LIPI secara rutin melakukan simposium dan seminar, untuk memberikan kesadaran dan kecintaan terhadap satwa dan puspa.

“LIPI juga melakukan penyadaran kepada masyarakat terhadap pentingnya lingkungan hidup,” katanya.

Ia menegaslam pelestarian puspa dan satwa ini sangat penting untuk bekal ilmu pengetahuan bagi generasi penerus.

“Nantinya, meskipun puspa dan satwa itu sudah punah tapi masih dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi penerus melalui sampelnya di museum,” demikian Atit Kinanti, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (fik)