Hallobogor.com, Bogor – Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang diluncurkan Kementerian Pertanian mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi mahasiswa maupun alumni perguruan tinggi pertanian dalam mengembangkan usaha pertaniannya.

“Pertanian tidak lagi dipandang seperti zaman dulu, orang-orang tua kita dulu kotor-kotoran di sawah, mencangkul panas-panasan, membajak sawah, tetapi sekarang lahir banyak kreativitas dan inovasi,” kata Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Siswoyo dalam kegiatan Temu Wirausaha Muda Pertanian di IPB Internasional Convention Center, Kota Bogor, Senin (27/11/2018).

Kementerian Pertanian telah meluncurkan program PWMP sejak 2016. Selama tiga tahun berjalan sudah terbentuk 1.013 kelompok PWMP yang terbentuk di enam Polbangtan, 29 perguruan tinggi mitra, 18 SMK Pertanian Pembangunan, dan satu pondok pesantren. Program ini terbagi dalam tiga tahapan yakni tahun pertama sebagai tahun penyadaran dan penumbuhan, tahun kedua pengembangan, dan tahun ketiga kemandirian. Pada tahun pertama ini kelompok PWMP untuk perguruan tinggi skema bantuan diberikan kepada alumni berupa modal usaha dengan besaran Rp 30 juta sampai dengan Rp35 juta.

Sedangkan Polbangtan dan SMKPP dukungan diberikan berupa beasiswa kepada mahasiswa dengan besaran Rp15 juta. Pada tahun kedua, kelompok PWMP angkatan pertama masuki tahun pengembangan. Di tahun ketiga ini (2018), kelompok PWMP tahun 2016 menjadi mandiri, dan kelompok PWMP 2017 masuk fase pengembangan. Pada 2018 ini, PWMP masih menambah jumlah kelompok, tercatat ada 266 kelompok PWMP yang berasal dari 29 perguruan tinggi, satu pondok pesantren, enam Polbangtan dan 18 SMK.

Menurut Siswoyo, era digitalisasi saat ini memudahkan mahasiswa maupun alumni penerima program PWMP berkreativitas memasarkan produknya. “Pertanian sekarang dipandang sebagai bisnis yang potensial, dikembangkan melalui pendekatan agribisnis,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan penerima program PWMP mengembangkan usahanya juga dilihat dari nilai omset yang mereka miliki setelah tiga tahun program berjalan. Seperti kelompok PWMP di Yogyakarta yang mengembangkan usaha sektor perternakan kini memiliki omset ratusan juta. “Ada juga kelompok PWMP di Cianjur yang usaha hortikulturanya tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga sampai internasional, memasok sayuran untuk restoran Jepang,” jelasnya.

Sementara itu, Dr Burhanuddin dari Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) IPB yang juga dosen pendamping program PWMP menambahkan target mengubah pola pikir generasi muda agar mau terjun ke pertanian terwujud.

“Lahirnya inovasi-inovasi bisnis ini adalah bukti bahwa minat generasi muda ke pertanian sudah mulai tumbuh, hingga kini program PWMP masih efektif dan berjalan sesuai jalurnya,” katanya. (lai)