Oleh : Untung Triantoro, MM,

DAN sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS : Al-Baqarah 155)

Ujian adalah fase hidup yang harus dilalui manusia. Terkadang ujian bisa menjadi nikmat, manakala disadari akan hakikatnya sebagai penempa diri mendaki derajat tinggi di sisi illahi.

Dan nikmat bisa menjadi ujian, manakala jiwa enggan mencari hikmah sebagai pelajaran yang bermakna bagi diri agar terbiasa dengan garis hidup yang telah ditetapkan Sang Kuasa.

Ujian hidup hanya diikuti oleh mereka yang belajar. Setelah ujian biasanya akan ada kesenangan. Seperti kesulitan yang bersamannya ada kemudahan. Jika lidah merasakan pahit, itu pertanda akan merasakan manis, Jika masalah semakin pelik, maka pertanda akan ada jalan keluar yang gemilang.

Jika perasaan senantiasa dirundung malang, maka pertanda kebahagiaan akan segera datang, Jika perjuangan ini terasa berat, maka pertanda kejayaan akan segera diraih, maka janganlah putus asa dan jangan patah semangat dalam setiap usaha serta dalam menggapai cita.

Kesusahan adalah ujian, dan penawarnya adalah sabar. Iri dan dengki adalah ujian dan penawarnya adalah menahan diri. Kebanyakan manusia sabar dengan kesusahan, namun tak sanggup menahan diri manakala saudaranya mendapat kesenangan melebihi nikmat yang ia dapatkan.

Puasa mengajarkan kita untuk berbagi, merasakan penderitaan kaum yang susah dan lemah. Puasa mengajarkan kita untuk bersabar jika ada ujian yang datang menimpa. Puasa mengajarkan kita tentang kebersamaan agar jauh dari sikap iri dan dengki.

Puasa mendidik kita kembali kepada jati diri manusia yang fitri dan menyayangi, memberi, dan saling berbagi. Namun terkadang dorongan eksistensinya telah menutup kemuliaan diri menjadi pribadi yang gemar dipuji.

Kadang keikhlasan berubah menjadi pamrih. Fitrah menyayangi berubah menjadi benci, senang memberi berubah menjadi bakhil. Dan saling berbagi berubah menjadi permusuhan.

Untung Triantoro, MM, Kepala sekolah di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Said Na’um, Pembina di Sekolah Qur’an Indonesia dan Konsultan di Casa Cendekia