Hallobogor.com, Bogor – Pertanian dan petani di negara Indonesia dinilai belum sepenuhnya berdaulat. Meski memiliki kekayaan alam dan segudang potensi di sektor pertanian, namun masih ditemukan banyak persoalan di dalamnya.

Kondisi ini menjadi tajuk utama Lokakarya dan Musyawarah Nasional (Munas) V Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB) yang digelar di IICC Botani Square, Kota Bogor, Sabtu-Minggu (16-17/12/2017). Selain ditujukan agar 140 ribuan alumni IPB mampu mengambil peran meningkatkan kedaulatan pertanian, Munas V HA IPB ini juga dalam rangka pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal HA IPB periode 2017-2021.

Kegiatan Munas ini menyuguhkan keynote speaker Menko Perekonomian Darmin Nasution, dan dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Pakar dan Praktisi Keuangan Roy Sambel, dan Petani Inovatif Gunung Soetopo.

Darmin Nasution memaparkan, potensi pertanian di Indonesia sangat dapat menopang perekonomian Indonesia. Namun menurutnya, kurang maksimal dan butuh peremajaan untuk mengelola semua potensi pertanian Indonesia. 

Persoalan pertanian sangat kompleks seperti masih lemahnya riset, borosnya penggunaan tanah pertanian, minimnya skill sumber daya manusia, masih lemahnya pengolahan hasil bumi di dalam negeri agar memiliki nilai lebih, minimnya regenerasi petani, masih banyaknya sarjana pertanian yang memilih bekerja di perusahaan dibanding memberdayakan pertanian, dan banyak lagi.

“Banyak yang harus diurusin. Makanya pemerintah saat ini sedang mengusahakan ada perbaikan yang besar di bidang pertanian. Yakni perlunya transformasi di bidang pertanian, dalam arti menjadikan lebih baik, dari yang tadinya apa adanya menjadi lebih layak,” katanya.

Salah satu konsep yang bisa dilakukan, kata Darmin, yakni membuat cluster pertanian. “Dalam cluster pertanian ini bukan hanya bicara bercocok tanam yang baik, tapi perlu adanya perluasan kepemilikan lahan bagi petani. Kalau seperti sekarang, petani orang per orang, kalau terjebak kebutuhan dijual. Tidak ada lumbung. Menciptakan cluster pertanian ini memang susah, tapi dengan program satu desa satu komoditas, one village one commodity, ini langkah permulaan yang bagus. Ini langkah menuju sistem cluster,” paparnya.

Karenanya, Darmin mengharapkan pula kepada IPB dan seluruh alumninya bukan hanya bekerja di perusahaan. “Buatlah kelompok, konsultan, melakukan pendampingan-pendampingan kepada masyarakat petani. Sebab banyak hal-hal baru yang masyarakat petani tidak tahu, apalagi kalau tanamannya baru,” harapnya.

Sementara itu, Ketua HA IPB, Bambang Hendroyono, saat ini jumlah alumni IPB kurang lebih 140 ribuan dan tersebar di Nusantara serta bekerja di berbagai sektor dan profesi. “Tapi belum menjadikan pertanian dan petani berdaulat. Ini tantangan bagi alumni,” ujarnya.

Ketua Panitia Munas V HA IPB, Endro Siswoko, menambahkan, kegiatan lokakarya ini merupakan lanjutan dari lokakarya yang telah digelar di beberapa daerah, tujuannya guna memperkuat sinergi alumni IPB dalam mendukung terwujudnya kedaulatan pertanian Indonesia. 

“Kata singkatan IPB banyak dipelesetkan misalnya Institut Pertambangan Bogor, Institut Penerbangan Bogor, karena alumni IPB banyak ahli, apalagi ahli pertanian. Jika ada soal pertanian pasti IPB yang ditanyai. Semua alumni harus siap dengan beban ini. Kalau berhimpun kuat tak akan ada lagi impor komoditi pertanian dan pangan,” imbuhnya. (cep)