0%
Awesome
  • Criteria

Hallobogor.com, Bogor – Kebijakan Walikota Bogor tidak pernah lepas dari pro dan kontra. Seperti pada penerapan Sistem Satu Arah (SSA) di ruas jalan seputaran Kebun Raya Bogor (KRB). Bagi yang kontra, kebijakan itu dirasa sangat merugikan. Seperti dialami sopir angkutan kota (angkot) dari beberapa trayek terkena dampak perubahan rute di jalur SSA.

Kesekian kalinya, ratusan sopir angkot menyerukan penolakan penerapan SSA di ruas jalan seputaran KRB. Bahkan jauh sebelumnya, saat berlangsung uji coba ratusan sopir pun sempat dua kali melakukan aksi serupa menolak penerapan SSA dengan aksi mogok operasi. Mereka beralasan perubahan rute membuat pendapatan turun drastis.

Puncaknya, ratusan sopir angkot dari trayek Warung Jambu – Merdeka (08), Sukasari – Bubulak (02), Pasir Kuda – Sukasari (14), Cimahpar – Bubulak (06), Sukaraja – Merdeka (12), Bantar Kemang – Ramayana (13) dan beberapa trayek yang terkena dampak SSA menduduki Balaikota Bogor, Rabu (27/4/2016).

Sebelum melakukan aksi demo mereka melakukan long marc dari Jalan Pajajaran (Bale Binarum) hingga Jalan Djuanda (Balaikota Bogor).

Koordinator Aksi Empay Sopardi mengatakan, aksi demo tersebut berkaitan dengan menyampaikan aspirasi kepada Walikota, karena memang saat ini sangat terasa berbeda pendapatan yang diperoleh para sopir angkot.

“Dampak SSA seharusnya dipikirkan juga bagaimana nasib kami sopir angkot. Kami juga butuh penghasilan, apalagi saya pribadi mempunyai keluarga,” ungkap Empay yang juga sopir angkot trayek 13.

Dia menambahkan, mungkin Walikota selama ini kurang memberikan informasi terkait SSA kepada sopir angkot karena memang dahulu hanya uji coba empat hari kemudian diperpanjang. Sampai akhirnya SSA dipermanenkan, sehingga pendapatan sopir angkot semakin turun drastis.

“Dahulu setengah hari saja bisa dapat Rp50 ribu Walikota, tapi saat ini untuk cari Rp20 ribu saja sulit. Dimana hati nurani Walikota Bogor?, kami sangat menderita. Kaji ulang SSA ini, atau kami akan melakukan aksi lebih besar. Tanggapi keinginan kami yang tidak banyak ini, kalau direrouting juga belum tentu bisa mendongkrak pendapatan,” bebernya.

Senada diungkapkan Ukar. Sopir trayek 02 ini mengungkapkan masih ingat dengan janji Walikota Bogor yang akan mensejahterakan masyarakat Kota Bogor, tapi nyatanya mengapa saat ini malah terkesan menindas.

Tak hanya itu, lanjut Ukar, Walikota juga selalu menyalahkan angkot menjadi biang kemacetan, padahal jumlah mobil pribadi itu lebih banyak ketimbang angkot.

“Dan kami memang suka berhenti sembarangan demi penumpang. Tapi harus dikontrol juga, karena kami juga takut kalau ada aparat untuk melanggar berhenti sembarangan,” tuturnya.

Dirinya juga mengatakan, saat ini untuk setoran saja sudah tidak terkejar apalagi memikirkan keuntungan untuk nafkah keluarga di rumah. Inilah yang saat ini menjadi beban berat bagi sopir angkot, Walikota mungkin tidak merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat kecil.

“Walikota Bogor Bima Arya memang orang kaya, jadi tidak merasakan kesusahan kami. Saat mencalonkan kami didekati, saat sudah jadi, kami diinjak,” akunya.

Aksi perjuangan ratusan sopir angkot sejauh ini belum membuahkan hasil keputusan apa pun dari pemangku kebijakan. Sebab Walikota belum menemui mereka.

Terinformasikan orang nomor satu di Kota Bogor ini tengah melaksanakan dinas luar kota. Pertemuan untuk mengulas penolakan SSA akan dilanjutkan pada Kamis (28/4) esok sekira pukul 08.00 WIB.

“Untuk perwakilan sopir angkot masalah ini nanti saja dibahas besok dalam pertemuan. Sekarang tidak bisa menjamin untuk mempertemukan dengan Walikota, sehingga pertemuan dijadwal ulang saja, saya siap menjembatani. Aksi unjuk rasa ada aturannya tidak sampai jam 5 sore,” tutur Kapolsek Bogor Tengah, Kompol Prasetyo yang didampingi Asisten Pemerintahan pada Setdakot Bogor, Agung Prihanto dihadapan para sopir.

Sementara aksi mogok operasi ratusan sopir angkot ini terpantau membuat terlantar sejumlah penumpang yang hendak beraktivitas dan bepergian ke tempat tujuan. Alhasil, terjadilah penumpuk penumpang disejumlah kawasan jalan di Kota Bogor. (hrs).