Hallobogor.com, Bogor – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria mengatakan Indonesia belum tertinggal dari negara-negara di Asia dalam menyiapkan diri menghadapi era revolusi industri 4.0 terutama di sektor pertanian.

Hal ini disampaikan usai memaparkan konsep pertanian 4.0 dalam Konferensi Global Ecology, Agriculture and Rural Uplift Program (GEAR UP) ke-5 di Taiwan, Selasa (13/11/2018).

“Di Taiwan hal ini (pertanian 4.0) juga baru dimulai. Artinya kita belum ketinggalan dari Taiwan. Kerena di dunia ini juga relatif baru,” katanya.

Arif diundang sebagai pembicara utama dalam Konferensi Global Ecology, Agriculture and Rural Uplift Program (GEAR UP) ke-5 diselenggarakan atas kerja sama antara National Chung Hsin University Taiwan dengan Texas A&M University Amerika Serikat pada 12-13 November 2018 di Taichung Taiwan.

Menurutnya, pertanian 4.0 merupakan konsekuensi dari adanya Revolusi Industri 4.0 yang dicirikan dengan berkembangnya teknologi baru seperti drone, robotik, kecerdasan buatan, dan ‘internet of things’ (IoT).

Berkembangnya Revolusi Industri 4.0 juga telah melahirkan corak masyarakat baru yang bisa disebut sebagai masyarakat pintar (smart Society), yang berbeda dari masyarakat sebelumnya, yaitu masyarakat agraris, industri, dan informasi.

“Karena itu pertanian pun dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan masyarakat baru itu,” katanya.

Ia mengatakan, dari hasil kunjungannya ke sejumlah perguruan tinggi, secara umum semua negara memiliki ‘start’ yang relatif sama dalam penerapan konsep 4.0.

“Sehingga kita harus cepat melangkah agar tidak ketinggalan,” katanya.

Para dosen IPB, lanjutnya, telah memulai riset pertanian 4.0 dan menghasilkan sejumlah inovasi yang menarik, seperti pengendalian hama terpadu dengan kecerdasan buatan, sistem pintar deteksi kebakaran hutan, monitoring padang lamun dengan teknologi sensor dan IoT, deteksi tingkat kemanisan buah dengan telpon pintar.

“Riset-riset semacam itu akan terus didorong di IPB dan memerlukan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di dunia,” kata Arif. Menurut Arif, di era 4.0 ini pentingnya pemberdayaan petani dalam rangka menyiapkan petani agar mampu beradaptasi dengan era baru tersebut.

IPB telah melakukan langkah-langkah menyambut pertanian 4.0 itu seperti mengembangkan program pemberdayaan untuk meningkatkan literasi digital para petani di delapan provinsi dan 17 kabupaten di Indonesia.

Selain itu, IPB kini sedang mempersiapkan Tani Center sebagai pintu Masuk petani ke IPB. “Sebagai upaya IPB membuka seluas-luasnya akses petani terhadap inovasi yang ada,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, Tani Center juga akan dijadikan pusat pembelajaran sesama petani. Kisah- kisah sukses petani akan dikelola agar menjadi inspirasi buat petani lainnya maupun mahasiswa. “Ini adalah bentuk komitmen IPB untuk membantu petani,” katanya.

Arif menambahkan, konsep pertanian 4.0 yang dipaparkannya dalam forum tersebut disambut antusias oleh para peserta yang merupakan ilmuan dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari Asian dan Amerika, karena topik tersebut masih hangat dibicarakan.

“Bahkan Universiti Sains Malaysia (USM) juga akan mengundang saya menyampaikan Perikanan 4.0. Delegasi USM juga hadir dan tertarik mengkaji lebih jauh di Mata,” kata Arif menutup pembicaraan. (res)