Hallobogor.com, Bogor – Kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur adalah sebuah tindakan yang bisa menghancurkan generasi muda di indonesia. Apabila terus dibiarkan, predator seksual bakal terus mengincar anak-anak di negeri ini dengan modus yang bervariatif dan kompleks.

Menurut data tahun 2017, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan 116 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Angka ini mungkin akan terus bertambah jika pemerintah pusat atau pemerintah daerah dan para pihak yang bersangkutan tidak serius melakukan pencegahan dan menindak oknum dengan hukuman yang berat.

Repdem Kabupaten Bogor pun turut menyoroti angka yang dikeluarkan oleh
Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bogor. Yakni, jumlah kasus anak hingga akhir Oktober 2017 hampir mencapai 110 kasus. Sekira 90 kasus di antaranya berkaitan dengan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Wakil Ketua Repdem Kabupaten Bogor, Fahreza, mempertanyakan sejauh mana penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak yang sudah atau sedang diproses oleh pihak kepolisian. Karena, jelas dalam UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak Pasal 1 (2) menyebutkan “perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya
agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

“Bagaimana orang tua dan masyarakat bisa melindungi anak-anak mereka dengan optimal apabila penanganan kasus pencabulan anak tidak ditangani dengan serius hingga pelaku tersebut jera,” ujar Fahreza. (cep)