Hallobogor.com, Bogor – Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali mengatakan para pendidik harus memperbaharui diri dan keilmuannya agar bisa relevan di era disrupsi yang terjadi saat ini. “Orang mati itu dingin dan kaku, kalau anda (pendidik-red) dingin dan kaku, anda sudah mati sebelum dikubur,” kata Rhenald dalam kegiatan Koordinasi Teknis Pendidikan Vokasi Pertanian tahun 2019 yang berlangsung di Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/1/2019).

Rhenald menyebutkan, tidak ada lagi dosen ‘killer’, kepala sekolah ‘killer’, bermuka kenceng. Dosen atau guru haruslah bersahabat, dan membantu orang untuk mencapai cita-citanya. “Itulah objektifnya seorang pendidik,” katanya.

Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini akan menggerus posisi pendidik jika tidak mampu relevan dengan perubahan zaman. Ilmunya akan tertinggal, demikian pula dengan alat ajak yang digunakan, karena telah disaingi oleh teknoligi. Era sekarang ini, lanjutnya, pendidik kehilangan pengakuan, penghormatan (respect), mahasiswa tidak mau lagi mendengar dosen, karena ilmunya sudah tidak relevan lagi. “Kata kuncinya ‘keep it relevant’, buatlah ilmu kita relevan,” katanya.

Rhenald menggabarkan begitu besarnya perubahan di sektor pertanian dengan hadirnya teknologi. Ayam tidak lagi dibiarkan hidup bekeliaran, cukup dikandang dalam waktu 45 hari sudah bisa disembelih. Begitu juga sapi, kini dagingnya bisa dinikmati tanpa harus menyembelih ternak dengan teknologi kultur jaringan. Sel sapi diambil untuk menghasilkan ‘clean meat’ atau daging bersih.

Rhenald mengingatkan pendidik di lembaga pemerintah jangan hanya memanfaatkan jabatan, duduk tanpa melakukan apa-apa tetapi membicarakan soal APBN. Sudah saatnya pendidik bergerak aktif dalam meningkatkan keilmuan dan peralatannya, dengan mencari sponsor, membuat ground funding, atau membuat projek, mengundang pakar ke kampus untuk mengajar dosen, kolaborasi dengan dunia usaha agar bisa meminjam alat sehingga relevan. Ia mencontohkan Columbus penjelajah dari Italia yang memiliki jiwa ekplorasi ingin ke India.

Tetapi tersesat tiba di Benua Amerika. Karena kecerdasannya, dia membuat nama suku asli Amerika sebagai suku Indian. “Columbus juga membuat kuote menarik ‘kalau saya tidak mau tersesat, maka kalian tidak akan menemukan jalan baru’ itulah pintarnya Columbus,” kata Rhenald.

Menurutnya, jiwa-jiwa eksplorasi ini yang harus diajarkan kepada para mahasiswa saat ini agar berani melangkah dan menemukan hal-hal baru. Seperti sekarang munculnya Jack Ma, Steve Job, platform ecommerce Amazone, Bukalapak, Gojek dan lainnya. Penulis buku itu juga berpesan agar para pendidik di era sekarang tidak takut menghadapi kesulitan, karena dibalik kesulitan selalu ada kesempatan. “Setiap saat ada kesulitan, ada kesempatan baru, tidak mungkin ngak ada, karena kita manusia ini ‘problem solving’. Ini yang membedakan manusia dengan kera. Manusia itu ‘solution maker’, ” kata Rhenald.

Rhenald hadir memberikan motivasi kepada para pendidik dan pimpinan Polbangtan dari seluruh Indonesia, dalam kegiatan Koordinasi Teknis Pendidikan Vokasi Pertanian tahun 2019 yang dilaksanakan oleh Pusat Pendidikan Pertanian, BPPSDMP Kementerian Pertanian, yang berlangsung sejak Rabu (16/1/2019) kemarin di Bogor hingga hari ini.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Idha Widi Arsanti mengatakan arah pembangunan pertanian Kementerian Pertanian tahun 2019 yaikni terwujudnya kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Guna mencapai visi tersebut, lanjutnya, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menetapkan visi “Terwujudnya SDM Pertanian yang Profesional, mandiri dan Berdaya Saing”.

“Salah satu cara mewujudkan SDM pertanian yang handal dan profesional yaitu memperkuat pendidikan pertanian yang kredibel melalui penyiapan generasi muda terdidik, terlatih, kompeten unggul dalam agrosociopreneur,” kata Idha, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (lai)