Hallobogor.com, Bogor – Ribuan ekor ikan milik warga di Kampung Cibogo RT 1/6, Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, mendadak mati. Kejadian ini akibat cairan beton semen tumpah ke Irigasi Ciratim yang berasal dari proyek betonisasi jalan akses menuju proyek Waduk Ciawi, Kamis (2/11/2017).

Salah satu pemilik keramba, Dalili (62), menuturkan, sekitar pukul 07.00 WIB saat dirinya mau mengecek ikan, ikan-ikan dalam kerambanya sudah mati. Setelah diperiksa lebih lanjut, ikan-ikan dalam keramba yang mati bukan hanya miliknya. Warga pun mendadak resah.

“Ikan yang saya budidayakan di keramba tersebut sebanyak 250 kilogram, disaluran air Ciratim ini ada puluhan warga pemilik keramba,” kata Dalili.

Karya (65), pemilik keramba lainnya mengatakan, jenis ikan yang dibudidayakan warga rata-rata ikan mas dengan ukuran bervariasi dari mulai satu ekor satu kilogram hingga satu ekor 3 kg.

“Semuanya mati ga tersisa, dugaan warga sama, ketika mencium bau air sama dengan bau seperti semen,” ujar Karya

Akibat kejadian ini, warga pemilik keramba meminta ganti rugi sebesar Rp 150.000 per kg kepada pihak kontraktor proyek Waduk Ciawi.

“Kami minta ikan yang mati ini diganti rugi, dan warga sepakat ganti rugi yang diminta sebesar seratus lima puluh ribu perkilo,” ungkapnya.

Sementara, pengawas proyek Waduk Ciawi dari PT Abipraya-Sacna (KSO), Supri, mengakui matinya ikan milik warga akibat cairan beton yang mencemari saluran air Ciratim.

“Semalam sekitar pukul 20.00 WIB, pihaknya melakukan pengecoran jalan menuju bendungan, mungkin saat pengecoran ada cairan mencemari saluran air,” terang Supri.

Terkait kejadian ini, pihak PT Abipraya siap melaksanakan ganti rugi.

Terpisah, Kepala Desa Cipayung, Cacu Budiawan menjelaskan, kedua belah pihak sudah melakukan musyawarah yang difasilitasi Pemerintah Desa. Saat ini sedang mendata jumlah ikan yang mati akibat pencemaran saluran air Ciratim tersebut.

“Sedang ditimbang dulu berapa kilo jumlah ikan yang mati,” ujar Cacu.

Ia menambahkan, untuk biaya ganti rugi sendiri belum ada kesepakatan antara pihak perusahaan dan warga, karena masih dalam tahap negosiasi.

“Besok kita akan musyawarah lagi di kantor desa untuk menyepakati harga ganti rugi,” tandasnya. (cep)