Hallobogor.com, Batutulis – Lalu lintas di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kota Bogor mencapai puncaknya menjelang tengah hari. Jalanan hanya cukup untuk dua lajur kendaraan roda empat. Namun, mobil dan motor rata-rata melaju cepat, seolah sibuk sendiri-sendiri.

Sebuah papan nama di sebelah kanan jalan tak banyak dilirik. Pagar besi berwarna hijau di depannya, ditambah rimbunan daun pohon, cukup untuk membuat papan itu luput dari perhatian. Papan besi putih bertuliskan ”Situs Prasasti Batutulis”, sebuah situs yang juga menjadi asal penamaan ruas jalan dan kelurahan ini.

Sementara itu, dua pemuda setempat yang menjadi sukarelawan pengatur parkir menyambut dengan ramah. Sebenarnya, tak ada tempat parkir di sana. Kendaraan pengunjung cuma diposisikan di pinggir jalan. Pantas jika kedua pemuda itu harus bersusah payah mengatur letak kendaraan di antara ramainya lalu lintas. Tamu lokasi ini tak seramai tempat wisata rekreasi. Namun, ada saja yang mengunjungi. Satu-dua orang pulang, dua-tiga lainnya datang.

Lokasi Prasasti Batutulis berada tepat di pinggir ruas jalan. Memasuki gerbang yang hanya selebar satu meter, tumpukan batu kali langsung ada di depan mata. Di bagian tengah tumpukan, sebuah batu panjang menancap tegak serupa tiang. Kata orang sekitar, ini merupakan tempat mengikat kuda, dulunya. Beberapa tumpukan sejenis ada di sisi lain area situs, di sekeliling bangunan utama yang berukuran sekitar 5×5 meter.

Namun, belum sampai di bangunan utama, seorang ibu berbaju batik sudah beranjak dari tempat duduknya. Ia menyambut tak kalah soméah. Sesekali bercanda. Masih segar meski raut usia lanjut tak mampu lagi disembunyikan. Sejurus berlalu, buku tamu dia sodorkan bersama sebuah pena. Ada kolom nama, asal, dan tanda tangan. Itu sudah layaknya prosedur bagi tamu, sekaligus menjadi tugas harian perempuan bernama Maemunah ini.

Jika tak ada pengunjung, ia menghabiskan waktu dengan duduk manis di pelataran bangunan utama. Menikmati teduh pohon dan semilir angin yang juga meniup rimbunan bambu kuning di sana. Terus seperti itu kegiatan Maemunah, setidaknya selama 24 tahun terakhir, setiap hari sejak dia berusia 52.

Aktivitas harian Maemunah di area situs dimulai sejak pukul 7.30. Membersihkan halaman, menyapu lantai, sampai mengepel bangunan utama. Bagian dalam bangunan utama yang menyimpan beberapa batu peninggalan juga menjadi tanggung jawab Maemunah. Dia baru kembali ke rumahnya, tak jauh dari sana, saat jarum jam menunjukkan waktu pukul 15.00.

Kemesraan Maemunah dengan kompleks situs Batutulis tak begitu saja terjalin, melainkan turun temurun entah bermula dari generasi mana. Setidaknya, sepengetahuan dia, sang kakek yang bernama Ci’ong pun mengemban tugas serupa. Saat kakeknya meninggal, tugas menjaga kompleks prasasti diwariskan kepada generasi selanjutnya.

”Kakek saya juga warisan dari leluhurnya. Setelah Aki Ci’ong, lalu dilanjutkan Uwak Acep. Kemudian ibu saya, Emak Cicih, lalu saya. Awalnya, saya menjawab tidak bisa, tapi ini warisan, mungkin sudah takdir keluarga kami untuk menjaga ini,” kata ibu dari tujuh anak itu.

Selain Prasasti Batutulis, di dalam bangunan utama, terdapat batu-batu peninggalan lainnya. Yakni lingga sebagai simbol kesuburan dan kekuasaan yang menjulang sama tinggi dengan prasasti, sebuah batu berisi sepasang tapak kaki, batu berisi satu tapak serupa lutut, dan sebuah batu yang dipercaya sebagai tempat bersandar.

Semuanya berada di dalam bangunan utama dengan posisi yang masih dipertahankan. Hanya dasarnya yang sudah dilapisi lantai dan karpet merah. Berdiam diri di sana setiap harinya, bagi Maemunah seakan sedang bermesraan dengan sosok idolanya, Prabu Siliwangi.

Prasasti Batutulis diketahui ditulis dengan aksara Jawa Kuna, tapi menggunakan bahasa Sunda Kuna. Prasasti tersebut berangka tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi. Meski dibuat untuk menegaskan jasa-jasa Prabu Siliwangi, para pakar sejarah meyakini prasasti ini ditulis setelah sang prabu meninggal dunia.

Saleh Danasasmita, dalam Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran Jeung Prabu Siliwangi (2003) menyebut, bisa dipastikan bahwa saat prasasti dibuat, Sri Baduga telah tiada. Itu karena di dalamnya disebutkan Prabu Ratu Purané. Sementara kata ”purané” berarti ‘suwargi atau almarhum’.

Yoseph Iskandar dalam esai berjudul ”Nilai Tradisional dan Sejarah Pakuan Pajajaran Menurut Naskah Kuna” yang dimuat dalam Seri Sundalana 13: Politik Agraria dan Pakuan Pajajaran (2015) juga memaparkan, Prasasti Batutulis Bogor dibuat oleh Prabu Surawisesa, putera Sri Baduga Maharaja, untuk mengenang jasa ayahanda suwargi, dalam hal ”Pembangunan Kota Bogor” yang waktu itu terkenal dengan sebutan Dayeuh Pakuan.

Peninggalan berupa prasasti dari masa Pakuan, tentu bukan cuma Batutulis. Seperti yang diungkapkan Edi S Ekadjati dalam bukunya Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran (2005). Dia menyebut, telah ditemukan 24 prasasti yang berasal dari masa Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Mayoritas ditulis di atas batu, ada pula yang ditulis di media logam. Ada yang masih tersimpan di lokasi penemuan, ada pula yang sudah diangkut ke museum.

Terlepas dari di mana prasasti-prasasti itu diletakkan, banyaknya jumlah prasasti memastikan bahwa, selain Maemunah, masih banyak orang lain yang setia menjaga prasasti warisan Kerajaan Sunda, dengan komitmen dan rasa cinta yang sama.

Namun, di tengah tingginya kanyaah Maemunah terhadap Prasasti Batutulis, ada satu keinginan dia untuk kompleks bersejarah ini. Hanya satu. Jangan ada yang merusak, itu sudah lebih dari cukup. Maemunah masih ingat betul rasa sakit hati 14 tahun lalu. Saat Menteri Agama era Megawati, Said Agil Husin Al Munawar menggali sebagian area kompleks Prasasti Batutulis. Ada harta karun peninggalan Prabu Siliwangi, begitu dalih sang menteri. Harta tak didapat, lubang galian menganga yang tersisa.

”Katanya mau direhab, malah dirusak. Menteri Agama harusnya ngerti, orang pinter kok kaya begitu. Saya mah nyaah, kakek saya juga berpesan jangan rusak tempat ini, itu saja,” ucapan Maemunah meninggi.

Kini, Maemunah sudah memasuki tahun ke 76 dalam hidupnya. Masih bugar, tapi menyiapkan penerus harus segera dilakukan. Siapa pun sosoknya, yang penting ada kelanjutan generasi. Sang anak, Firman (49) adalah orangnya. Memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini, penerus harus sudah siap saat tugas generasi sebelumnya dinyatakan selesai. (drw/hlb)