Hallobogor.com, Cigombong – Penerapan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dirasakan pihak sekolah cukup memberatkan. Pasalnya, program itu digulirkan tanpa diimbangi dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai.

Sejumlah sekolah yang ditunjuk untuk melaksanakan UNBK terpaksa memeras otak dan melakukan berbagai cara untuk dapat memenuhi kebutuhan perangkat komputer. Karena komputer yang dimilikinya saat ini masih jauh dari jumlah ideal yang dibutuhkan.

Menurut Wakil Kepala SMP Negeri 1 Cigombong, Deden Sudrajat, pelaksanaan UNBK itu ada sisi keuntungan dan kerugiannya. Dari sisi keuntungan, dalam mengondisikan siswa maupun pengawas akan lebih praktis, tidak repot menyiapkan ruangan dan mendistribusikan soal.

“Sementara pada sisi lain kami kesulitan dengan minimnya sarana dan prasarana yang berkaitan dengan IT-nya (informasi teknologi), PC server yang membutuhkan biaya yang sangat besar. Sementara kemampuan finansial sekolah sangat terbatas. Sehingga, untuk mengalokasikan PC dengan rasio siswa kami sangat kesulitan. Terlebih dengan tidak adanya stakeholder yang peduli terhadap kesulitan sekolah,” katanya kepada Hallobogor.com.

Deden mengatakan, pendidikan bukan hanya merupakan tanggung jawab sekolah, akan tetapi juga merupakan tanggung jawab orangtua dan masyarakat. Sehingga, untuk kesuksesan UN ini sangat diharapkan kepada masyarakat yang peduli akan kesuksesan anak bangsa agar memberikan sumbangsihnya.

Dijelaskan Deden, dalam pelaksanaan UNBK banyak ditemui berbagai kendala. Seperti PC, jaringan internet serta komponen komponen yang berkaitan dengan kelistrikan. “Kami mohon kepada pemda agar ada koordinasi yang lebih baik lagi serta sinergi yang baik dengan Telkom serta PLN, baik dalam kegiatan uji coba dan terutama pada hari H pelaksanaan UN,” tandasnya.

Deden menyebutkan, untuk melaksanakan UNBK SMP Negeri 1 Cigombong memerlukan 135 unit komputer. Sementara perangkat yang dimilikinya saat ini hanya berjumlah 80 unit ditambah 3 server. Untuk memenuhi kekuragannya, pihak sekolah berupaya mencari pinjaman ke sekolah lain yang tidak melaksanakan UNBK.

Pihak sekolah berharap ke depan pemerintah harus mengevaluasi kembali program UNBK dengan memberikan fasilitas sarana dan prasarana pendukungnya, serta kapasitas tegangan listriknya. (den)