Hallobogor.com, Gadog – Musim kemarau masih terus berlangsung hampir lima bulan. Mayoritas masyarakat Bogor pun menjerit lantaran kekeringan terjadi di mana-mana, air bersih menjadi mahal, debit air berkurang, dan suhu udara sangat panas di siang hari.

Menurut pantauan UPT Teknik Pengairan dan Irigasi Wilayah Ciawi, dari sekitar 229 daerah irigasi seluas 7.841 hektar yang terinventaris se-Wilayah Ciawi yang meliputi delapan kecamatan, tidak ada daerah irigasi yang benar-benar kekeringan. Hanya saja debit air berkurang drastis di semua daerah irigasi.

Guna mengatasi agar kekeringan bisa diatasi setiap kali musim kemarau, UPT Teknik Pengairan dan Irigasi Wilayah Ciawi mengampanyekan berbagai upaya agar masyarakat secara mandiri bisa mengatasi kekeringan.



Menurut Kepala UPT Teknik Pengairan dan Irigasi Wilayah Ciawi, Eka Sukarna, beragam bentuk upaya tersebut di antaranya membuat embung (kolam kecil penampung air hujan), memelihara waduk dan bendung agar tidak mengalami pendangkalan, menggencarkan penghijauan di daerah hulu agar lahan mampu menyerap air hujan, serta memperbanyak pembuatan lubang biopori.

“Lubang resapan biopori ini adalah teknologi tepat guna untuk meningkatkan laju resapan air hujan dan memanfaatkan sampah organik yang dimasukan ke dalam tanah,” kata Eka Sukarna di sela kegiatan membuat ratusan lubang biopori di kawasan Gadog, Puncak, Kabupaten Bogor, Kamis (3/9).

Eka menjelaskan, beberapa manfaat biopori yaitu meningkatkan cadangan air tanah, mengurangi aliran air di permukaan (run off), mencegah keambalasan dan keretakan tanah, mengubah sampah organik jadi kompos, meningkatkan unsur hara tanah, dan mengurangi banjir, longsor, dan kekeringan.

Lebih jauh, Eka juga menghimbau agar masyarakat mengetahui jenis-jenis tanaman yang paling bagus mengatasi kekeringan. Antara lain kaktus, beringin, dan bambu.(cep)