Hallobogor.com, Bogor – Wali Kota Bogor Bima Arya berharap organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi kekuatan pencerah pada kehidupan bangsa.

“Harapan ke depan, NU tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’ saat ada ancaman, namun menjadi kekuatan pencerah masa depan,” katanya pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) NU Kota Bogor VIII/2019 di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ghazaly Kota Paris, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (17/11/2019).

Konfercab bertema “Tema Aktualisasi Aswaja Annahdliyah sebagai Benteng Kultural Kota Bogor” itu dihadiri KH Hadi Hidayatullah, SQ, MA dari Pengurus Wilayah (PW) NU Jabar, Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto, Ketua Tanfidzyah PCNU Kota Bogor masa bakti 2014-2019 Dr Ir Ifan Haryanto, M.Sc, Rais PCNU Kota Bogor KH Fuad Fitri Fachrurozi, ulama pondok pesantren, unsur muspida, badan otonom (banom) NU, Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) IPB dan lainnya.



Dalam kesempatan itu Bima Arya menyatakan terima kasih kepada jamaah NU Kota Bogor karena sejak menjabat Wali Kota, ia merasakan dukungan kalangan “nahdliyyin” dalam berbagai sendi kehidupan.

“Dalam berbagai ancaman yang ada NU selalu di depan. Banyak momentum kebersamaan, baik untuk mengawal akidah, dan lainnya,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa para santri ponpes dalam menghadapi ancaman, seperti intoleransi, radikalisme dan lainnya bisa diberdayakan.

“Tidak hanya pada kejadian insidental kita berkumpul, namun juga mesti bisa melakukan kebersamaan untuk mencari solusi hingga ke akarnya,” katanya.

Bima Arya juga mengharapkan kepengurusan baru hasil Konfercab NU Kota Bogor yang terpilih nantinya bisa bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemkot Bogor dan lainnya dengan semangat yang sama.

Sementara itu, KH Hadi Hidayatullah, SQ, MA dari PWNU Jabar di depan Wali Kota Bogor Bima Arya menggarisbawahi peran NU sebagai katalisator dengan pemerintah dan elemen bangsa lainnya.

Menurut dia posisi katalisator itu seperti “komisaris” di negeri ini sehingga NU dan juga Muhammadiyah memiliki peran strategis pada bangsa ini.

Sedangkan Ketua Tanfidziah PCNU Kota Bogor Ifan Haryanto dalam laporannya mengatakan bahwa kepengurusan NU masa bakti 2014-2019 adalah “pecah telor” karena sebelumnya — dengan dinamika yang ada — tidak paripurna selama lima tahun.

“Semoga, kepengurusan-kepengurusan ke depan bisa berjalan normal sesuai AD/ART organisasi,” katanya.

Selama lima tahun terakhir, kata dia, telah dilakukan pembenahan-pembenahan struktural, mulai dari tingkat ranting hingga Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di tingkat kecamatan telah terbentuk semuanya.

Di samping itu, ia menjelaskan, juga telah dapat diwujudkan gedung sekretariat permanen di kawasan Sempur, menggerakkan beragam aktivitas, seperti lembaga pendidikan usia dini setingkat taman kanak-kanak (TK), yakni “raudhatul athfal”, dan bimbingan belajar (bimbel) tingkat SD hingga SLTA.

Dia mengakui bahwa selama lima tahun terakhir masih terdapat banyak kekurangan, namun apa yang sudah dirintis dan dikembangkan itu diharapkan bisa menjadi pondasi NU ke depan untuk terus berkhidmat, tidak saja bagi NU namun juga kemaslahatan masyarakat secara luas. Demikian, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (fik)