Hallobogor.com, Cibinong – Ratusan warga perumahan elit Sentul City menggeruduk Gedung DPRD Kabupaten Bogor di Cibinong, Rabu (22/2/2017) pukul 10.30 wib. Mereka menggelar unjukrasa dan menyampaikan aspirasinya kepada wakil rakyat.

Warga perumahan Sentul City yang tergabung dalam Komite Warga Sentul City (KWSC) sebagai konsumen mengaku dirugikan hak-haknya oleh PT Sentul City sebagai pengembang. Sebab, sejak berbulan-bulan tak dapat menikmati fasilitas secara nyaman.

Bahkan, berdasarkan keluhan warga Sentul City, segala bentuk fasilitas dikomersilkan oleh pengembang. Di antaranya, tarif air dipatok Rp9.000 per meter kubik dan biaya pemeliharaan lingkungan Rp2.200 per meter. Akibatnya, biaya warga perumahan membengkak hingga jutaan rupiah per bulan.

“Yang disayangkan, negara atau pemerintah seolah tidak bisa hadir di Sentul City mengayomi kami warga. Kami ingin negara hadir di Sentul City. Kenapa PDAM tak bisa masuk ke Sentul City. Padahal PLN bisa masuk,” tegas Ketua Umum KWSC, Brigjen Polisi (purn) Desman Sinaga.

Warga Sentul City juga mempertanyakan kepada Pemkab Bogor, sebab sudah 22 tahun berdiri Sentul City belum juga menyerahkan fasos fasum atau PSU (prasarana umum) ke Pemkab Bogor.

“Kami akan pidanakan Bupati kalau tak bisa membela warga Sentul City. Selama ini sudah ratusan kali berkomunikasi baik via telepon atau surat tapi tak ada realisasi,” tegas Desman Sinaga.

Selain warga perumahan Sentul City, warga Desa Bojong Koneng, juga menyampaikan keluhan serupa kepada DPRD. “Kasus tanah kas desa jadi masalah. Tanah kas desa Bojong Koneng diratakan oleh Sentul City dengan diback-up premanisme. Sampai sekarang belum selesai juga. Kami minta pihak-pihak berwenang survei ke lapangan,” tegas H Deden, tokoh warga Desa Bojong Koneng.

Menanggapi aspirasi warga Sentul City, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor asal Dapil 1, Ade Sanjaya, berjanji akan menyampaikan semua aspirasi warga. “Dalam waktu dekat akan adakan pertemuan dihadiri semua dinas dan pihak terkait. Saya juga minta kepada PDAM agar melayani kebutuhan air warga Sentul City,” tandasnya.

Ade tak menampik jika di lapangan ada dugaan kongkalikong antara oknum pejabat dengan pengembang Sentul City. “Makanya akan kami selidiki. Banyak kejanggalan. Warga Sentul City sudah setengah percaya terhadap Pemda. Ada 24 pelanggaran Sentul City, PDAM, dan Pemkab Bogor,” ungkapnya.

Terkait penyerahan fasos fasum dari Sentul City kepada pemda, Ade berpendapat bisa saja dilakukan moratorium atas usulan DPRD kepada pemda, agar izin operasional Sentul City dihentikan sementara.

Meski dijaga aparat Polres Bogor, aksi warga ke gedung DPRD ini berjalan kondusif. Bahkan menariknya, warga Sentul City datang konvoi masing-masing menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan sebagian besar di antaranya menggunakan mobil mewah. (cep)