Hallobogor.com, Cisarua – Tradisi Rebo Wekasan (Rebo Kasan) masih dipelihara oleh masyarakat di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua dan Megamendung, Kabupaten Bogor. Pada tahun ini, budaya yang telah turun temurun dan mengakar dengan simbol menyediakan makanan ketupat ini diperingati dengan melakukan pawai ketupat.

Pawai ketupat yang digagas Forum Puncak Ngahiji ini dipusatkan di Rest Area Cilember, Jalan Raya Puncak. Dengan menggunakan berbagai jenis kendaraan yang dihias dengan ketupat, warga kemudian konvoi sejauh kurang lebih 10 kilometer menuju Masjid Harakatul Jannah di kawasan Gadog.

Tokoh masyarakat Puncak dan Koordinator peringatan Rebo Wekasan, H. Arifin Azis, mengatakan, sebelum pawai masyarakat di masing-masing masjid melaksanakan sholat sunat ba’da shubuh dan menyampaikan doa-doa tolak bala.

Ia mengungkapkan, budaya Rebo Wekasan dalam sejarahnya telah mengakar sejak tahun 1951 dan digagas oleh seorang ulama karismatik di zamannya yang berasal dari Bakom, Bogor, yakni Mama Kyai Haji As’ary. 

“Tradisi ini seperti yang tercantum dalam nukilan kitab Mujarobatul Kubro dan Kanjun Najjah serta Jawahirrul Humus. Mengacu dari kitab tersebut, kemudian disikapi oleh Mama dari Bakom yang melakukan kegiatan tolak bala’i dengan kegiatan yang dilangsungkan oleh masyarakat di pagi hari Rabu dengan cara berkumpul melakukan zikir dan wirid oleh masyarakat setempat disertai dengan mengumpulkan ketupat, sayur tantang angin, beserta penganan lainnya sebagai simbol kebersamaan,” jelas H. Arifin Azis.

Tokoh masyarakat Puncak lainnya, Azet Basuni, menegaskan, kegiatan ini sebagai media sodaqoh dan wujud rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat, karunia dan keberkahan kepada umatnya.

“Kami dari Forum Puncak Ngahiji mengajak serta alim ulama dan habaib, Pemerintah Kecamatan Cisarua dan Megamendung, PHRI, dan warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi mewujudkan acara ini,” ujar Azet Basuni.

Hal senada diungkapkan Ketua Presidium Santri dan Forum Puncak Ngahiji, Muhammad Mukhsin. “Makna dari Rebo Weukasan atau Sedekah Lebaran Ketupat ini merupakan tradisi yang sudah lama dilakukan secara turun temurun. Sedekah itu menghilangkan bala’i yang Allah turunkan di bulan Safar ini. Yang lebih penting ini kita dalam rangka menyambut bulan Maulid di mana lahirnya Nabi Muhammad SAW,” pungkasnya. (wan)