Hallobogor.com, Ciawi – Serbuan pasar modern seperti supermarket, minimarket, hypermart, dan sejenisnya sulit untuk dibendung. Bahkan, keberadaannya makin menjamur hingga ke pelosok desa.

Kendati telah diatur dalam sejumlah perundang-undangan hingga tingkat Peraturan Daerah (Perda), namun keberadaannya masih memicu protea masyarakat pelaku usaha kecil. Lantaran, pasar modern kerap melanggar perizinan, jam operasional, minim mengakomodir UKM, dan melanggar jarak dengan warung-warung kecil.

Menyikapi kondisi itu, warga Kecamatan Ciawi menyerukan masyarakat Kabupaten Bogor agar kembali berbelanja di warung tetangga.



“Gerakan belanja di warung tetangga mengajak masyarakat Kabupaten Bogor khususnya Kecamatan Ciawi untuk melawan penjajah asing,” kata Imam Wijaya, aktivis sekaligus tokoh pemuda Ciawi.

Menurut Imam, saat ini telah terjadi perubahan tren dan gaya hidup masyarakat terutama di pedesaan. Mereka kini lebih memilih berbelanja ke minimarket karena gengsi, gaya, selain iming-iming potongan harga.

“Warga Kecamatan Ciawi fan Kabupaten Bogor sudah saatnya berdaulat di daerah kita sendiri. Jangan sampai penjajah asing menginjak-injak kita dan merebut semua yang kita punya. Gerakan nyata dengan berbelanja ke toko-toko milik tetangga sebagai bentuk perjuangan ekonomi kemasyarakatan. Kami meminta masyarakat Kabupaten Bogor menyambut seruan ini. Jika aksi belanja kembali ke pasar tradisional atau warung-warung kecil, perlahan sistem ekonomi kapitalis akan hancur,” ungkapnya.

Dirinya juga berharap pemerintah mendukung gerakan ini agar tidak terlalu longgar memberikan izin pada minimarket hingga ke pelosok. Izin seharusnya bisa diperketat dengan membandingkan luas wilayah dan jumlah penduduk.

“Sekarang ini di Kecamatan Ciawi saja sudah lebih dari lima belas minimarket. Menurut hitungan itu sudah terlalu banyak, pemerintah telah membunuh perekonomian rakyat dengan membiarkan minimarket tersebut berdiri sampai 15 minimarket,” sebutnya. (cep)