by

Amarah Bisa Jadi Bumerang Bagi Wilder

Oleh : M. Nigara, pengamat tinju

Kontroversi hasil pertarungan pertama, juara bertahan Deontay Wilder vs Tyson Fury (1/12/2018), masih jadi bahan yang membuat hati sang juara dunia kelas berat versi WBC itu tak nyaman. Berulangkali Wilder marah dengan pernyataan itu.

Sementara Fury yang saat ini menempati peringkat 1 di WBC, terkesan lebih santai. Meski demikian bukan berarti Fury bisa mengulang penampilannya seperti laga pertamanya itu.

Hiperbola
Banyak pakar yang melihat bahwa bobot pukulan Wilder jauh lebih berat ketimbang sang penantangnya Fury. Selain itu, sikap hiperbola Wilder akan menjadi ancaman utama sang lawan.

Artinya, jika Wilder mampu menekan amarahnya, maka dapat diperkirakan Fury meski lebih jangkung 5 centi (2.06 m) dan bobot lebih berat 19 kg, tak aman. Kita tahu jika Wilder sudah mekepaskan pukulan, ia akan melakukannya secara bertubi-tubi tanpa jeda. Hal itu yang disebut sebagai hiperbola dan membahayakan setiap lawannya.

Tapi, para analis mengatakan speed Fury lebih baik. Artinya, sebelum ia dibombardir, ia akan menutup dengan pukulan-pukulan yang cepat. Secara teknik, Fury juga dianggap lebih baik.

Wilder sendiri dinilai memiliki pertaganan yang lebih ketat dibanding Fury. Artinya, Wilder bisa mengatasinya.

Jadi, jika Wilder mampu menekan amarahnya, maka diyakini petinju asal Tuscaloosa, Alabama itu bisa memengalahkan petinju asal Manchester Inggris. Tapi jika tidak, maka amarahnya bisa jadi bumerang.

Pasar taruhan menuliskan 55-45 untuk sang juara. Selain itu 30 persen kemenangan bisa diraih dengan TKO/KO, 20 persen kembali draw dan susanya kemenangan angka.

Untuk itu, jangan lewatkan Ahad (23/2/20), jam o9.oo hanya di tvone. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.