by

Covid-19 Sebabkan Kunjungan ke Taman Rekreasi Turun 50 Persen

Hallobogor.com, Cipanas – Kunjungan wisatawan di beberapa taman rekreasi yang ada di Jawa Barat mengalami penurunan hingga 50 persen, pada libur Idul Adha tahun ini. Pandemi corona (Covid-19) menjadi faktor utama, belum pulihnya objek wisata yang biasanya selalu penuh saat liburan hari besar.

“Selain adanya aturan pembatasan, pengunjung masih dibayang-bayangi pandemi. Ini menjadi salah satu penyebab tingkat okupansi masih rendah. Rata-rata antara 30-40 persen penurunannya disbanding tahun lalu,” kata Muhammad Iqbal Harraz, Direktur Operasional Taman Bunga Nusantara kepada Hallobogor.com, Sabtu (1/8/2020).

Menurut Iqbal, masyarakat masih menunggu regulasi perjalanan lebih fleksibel, seperti diperbolehkannya kembali bus pariwisata secara penuh.

“Saat ini PO bus juga masih ada pembatasan. Bahkan ada juga yang sepenuhnya belum bisa berjalan. Kita berharap beberapa pekan atau bulan depan, semua normal kembali dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” ujar Iqbal.

Kondisi serupa juga dialami Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas. Tingkat kunjungan pada saat libur panjang Idul Adha dan akhir pekan ini belum menunjukkan angka yang signifikan.

“Masih landai. Belum begitu ramai,” kata General Manager Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas, Zaenal Arifin.

Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memperpanjang penerapan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi hingga 13 Agustus mendatang ikut mempengaruhi daerah tujuan wisata.

Selama ini, wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya merupakan pasar yang cukup besar. Mereka biasanya mencari daerah tujuan wisata alam terbuka. Tak heran jika kawasan seperti puncak selalu penuh setiap memasuki akhir pekan.

“Tapi untuk Idul Adha memang cukup terasa penurunannya dibanding tahun lalu. Mudah-mudahan saja, kedepan bisa ramai lagi,” kata General Manager Agrowisata Gunung Mas Hikmat Eka Karyadi.

Sementara itu owner objek wisata Kampung Karuhun di Desa Citengah Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang Nana Mulyana mengemukakan kondisi daerah tujuan wisata masih sangat memprihatinkan. Rata-rata okupansi turun 50 persen disbanding tahun sebelumnya.

“Dengan kondisi seperti ini pemerintah harus ikut membantu, bagaimana supaya pariwisata paling tidak bisa survive. Kalau untuk bangkit lagi, masih berat ya. Pandemi tidak saja memukul industri wisata, tetapi juga berdampak kepada daya beli masyarakat,” kata Nana—yang juga Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumedang ini.

Ditambahkan Nana, ditengah pandemi corona seperti sekarang untuk segmentasi menengah kebawah ada kecenderungan memilih objek wisata di kawasan-kawasan terbuka.

“Kalau di Sumedang, mereka berkunjung di perkebunan teh, Jatigede dan beberapa spot yang tidak berbayar,” tandasnya.

Sedangkan pengunjung menengah ke atas, lanjutnya, ada kecenderungan saat ini masih defend atau menunggu pelonggoran.
“Bagi mereka yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya, belum berani melakukan perjalanan karena adanya PSBB transisi. Ini yang mempengaruhi tingkat okupansi disini. Kebetulan untuk pasar menengah ke atas, kebanyakan berasal dari Jakarta,Bekasi dan sekitarnya,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, angka kasus covid-19 yang semakin melonjak di DKI Jakarta menjadi alasan utama diberlakukanya perpanjanganPSBB transisi.

Perbandingan jumlah kasus positif dengan tes PCR yang kini dilakukan secara agresif masih lebih tinggi dari standar 5 persen, yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia, WHO.

Hingga 13 Agustus mendatang, tidak akan ada penambahan pelonggaran pembatasan dari yang selama ini sudah berlaku. (adi)