by

Di Sinikah Lokasi Kerajaan Pakuan Pajajaran yang Sesungguhnya?

-Budaya-4,074 views

Hallobogor.com, Bogor – Rombongan Scipio, seorang sersan VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), melakukan ekspedisi ke pedalaman Batavia. Pada 1 September 1687 rombongan menemukan puing-puing dan batu besar di sekitar tanah berundak penuh pepohonan besar. Scipio pada laporan resminya mencatat lokasi tersebut sebagai “bekas kerajaan Pakuan-Pajajaran”.

Temuan Scipio lantas diteruskan Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di negeri Belanda. Laporan tersebut memacu ekspedisi lanjutan, termasuk Adolf Winkler (1690) dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1711).

Salah satu misteri ingin dipecahkan para perintis tersebut mengenai penyelidikan lokasi kerajaan Pakuan-Pajajaran. Salah satu pintu masuknya melalui tafsir kata “Pakuan-Pajajaran.”

Baca : Prabu Siliwangi dan Mitos Maung dalam Masyarakat Pasundan

Bertahun setelah rangkaian ekspedisi tersebut, misteri tersebut belum juga terpecahkan. Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan di Cikajang Garut dan penggemar bahasa dan budaya Sunda, saat bertugas menjadi juru tulis pemerintah Hindia-Belanda pada 1846, berpendapat arti Pakuan-Pajajaran berpadanan dengan de oprijen staande pakoebomen atau “pohon paku (pakis) berjajar.”

Baca juga : Kisah, Cerita, Sejarah, dan Fakta Seputar Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi

Holle berdasar pada sumber Carita Waruga Guru melukiskan lokasi kerajaan Pajajaran banyak tanaman pohon paku haji. Ia lantas membuktikan keberadaan pohon itu di sebuah kampung bernama Cipaku, wilayah Bogor kota. Pendapat Holle dituangkannya dalam “De Batoe Toelis te Buitenzorg,” dimuat Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (TBG), XVII.

Sejalan dengan Holle, ilmuwan Belanda Gerret Pieter Rouffaer juga melakukan penelisikan melalui karya sastra untuk bisa mengambil kesimpulan tentang letak Pakuan-Pajajaran. Rouffaer pada Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië, 1919, Rouffaer membubuhkan arti Pakuan-Pajajaran sebagai tempat atau kota kedudukan sang Maharaja, bertindak sebagai paku jagad atau poros dunia. Titik berat pendapat Rouffaer terdapat pada sang Maharaja sebagai pusat kosmis sehingga berkemungkinan berada di tengah kota.

Pendapat itu mendapat sokongan dari sarjana Belanda lainnya, H ten Dam, kata paku harus dihubungkan dengan lingga kerajaan yang berada tak jauh dari Prasasti Batutulis, Bogor. “Paku dalam arti lingga, sesuai dengan penafsiran zamannya ketika itu, yang berarti sumbu jagad, dan hubungannya sangat erat dengan kedudukan raja masa itu, yakni pusat jagat, pusat kosmis di dunia,” ungkap ten Dam, dalam “Verkenningen Rondom Padjadjaran,” dimuat Indonesie, 1957.

Jika pendapat Rouffaer merujuk kepada wilayah atau kota tempat raja memangku takhta, lain halnya dengan tafsir ahli epigrafi Poerbatjaraka nan mengurai kata Pakuan-Pajajaran berpadanan dengan de aan rijen staande hoven atau “bangunan istana berjajar.” Pendapatnya berpangkal pada kata pakuan dari kata pa+kuwu+an menjadi pakuwan atau pakuwon.

“Kata itu masih bertahan dalam bahasa Jawa pesisir yang berasal dari kata akuwu atau kuwu yang berarti pemimpin daerah tertentu,” tulis Poerbatjaraka dalam “De Batoe Toelis nabij Buitenzorg”, Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (TBG), LIX, 1921. Poerbatjaraka menganggap pakuan sebagai hof atau istana, bukan wilayah atau ibukota.

Lebih lanjut, berdasar Carita Parahiyangan (sekira abad 16), Poerbatjaraka menyatakan sebutan untuk istana atau keraton itu Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, merupakan istana berwujud lima bangunan berdiri berjajar.

Pendapat itu terbukti belum final. H. ten Dam justru menolak pendapat Poebatjaraka. Ia memberi garis tegas antara kata pakwan dan kadatwan. Menurutnya, pakwan memiliki arti ibukota pusat kerajaan, terdapat paku-nya atau pohon paku atau lingga-nya, sedangkan kadatwan adalah kadatuan atau istananya.

“Dengan demikian, maka terhindarlah kekacauan antara hofstad (pakwan) dan hof atau koningsburcht (kadatwan), yang dalam istilah Sunda sekarang antara dayeuh dan kadaton,” tulis Amir Sutaarga dalam Prabu Siliwangi.

Usaha memperjernih silang pendapat para ahli, diurai Saleh Danasasmita dengan tetap berkonsentrasi pada sumber bertulis Carita Parahiyangan. Teks itu, menurutnya, telah sangat jelas menyebut kadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati merupakan istana Sri Ratudewata atau gelar Sri Baduga Maharaja, “sehingga jelas yang disebut pakuan mesti kadatuan itu keraton atau istana,” ungkap Saleh Danasasmita dalam Ya Nu Nyusuk Na Pakwan, Prasasti Batu Tulis Bogor.

Saleh menambahkan bangunannya tak mungkin bertingkat, dan kata Pakuan-Pajajaran lebih tepat ditafsir sebagai istana berjajar, kemudian berubah menjadi nama diri; Pakuan-Pajajaran. “Keraton sebagai pusat pemerintahan sering kali identik dengan pusat kerajaan (ibukota) bahkan juga dengan wilayah kerajaan” tulis Saleh Danasasmita. Demikianlah, seperti dikutip Merahputih.com (*)

Napak Tilas Karuhun : Punya kisah dan cerita seputar Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi atau ingin meluruskan sejarah — jika ada koreksi. Atau punya versi lain, karena bisa jadi cerita berasal dari mulut ke mulut secara turun-temurun. Tulis dan kirimkan kepada redaksi atau hubungi whatsApp kami. Haturnuhun