by

Dosen dan Kampus di Indonesia Terjajah Scopus

-Opini-107 views

Oleh : Syarifudin Yunus, Dosen Universitas Indraprasta PGRI

Bisa jadi, hari ini dosen dan kampus di Indonesia sudah terjajah scopus. Iya si Scopus, konon katanya salah satu pangkalan data pustaka atau literatur ilmiah kini paling dielu-elukan para dosen dan banyak kampus. Dan akhirnya, dosen dimanapun seakan “berhasrat tinggi” untuk bisa dimuat di scopus. Begitu pula kampus, tidak sedikit yang menargetkan penelitian dosennya agar bisa ter-indeks di scopus. Maka bolehlah disebut, dosen dan kampus di Indonesia terjajah scopus.

Namun di sisi lain, mahasiswa tetap saja bersorak gembira saat dosen tidak masuk ke kelas. Belum lagi soal tradisi akademik yang rapuh di kalangan kampus, baik dalam penelitian maupun pengabdian masyarakat. Maka suka tidak suka, kampus hari ini lebih ngotot pada teks (qauliyah) bukan pada konteks (kauniyah). Ditambah scopus yang “menggerayangi” dosen dan kampus, maka patutlah perguruan tinggi di Indonesia dianggap “belum merdeka”.

Alhasil, ramai-ramai pula dunia pendidikan mendengungkan konsep “merdeka belajar”. Karena selama ini, kegiatan belajar dianggap beban. Beban bagi mahasiswa, beban bagi dosen. Pelan-pelan, kualitas mengajar dan kreativitas dosen pun kian dibelenggu oleh makhluk bernama scopus. Jadi, inikah target utama perguruan tinggi di Indonesia?

Dosen dan kampus terjajah scopus. Romantika scopus telah “membunuh” pelan-pelan tiga sifat yang harusnya melekat di kalangan kampus, yaitu 1) kreatif, 2) inovatif, dan 3) produktif. Maka praktik di sekitar kampus akhirnya tidak lagi pada konteks-nya. Hanya bisa puas pada teks-nya.

Kawan saya yang dosen pernah menyebut scopus sebagai “penindasan intelektual yang berlebihan”. Apalagi ketika kampusnya menyuruh semua dosen harus mampu ter-indeks di scopus. Maka saya pun tidak menganggukkan kepala. Tidak pula menggelengkan kepala. Saya hanya tertunduk sambil berpikir “kenapa scopus dianggap penindasan intelektual yang berlebihan”.

Mungkin ada benarnya, Max Horkheimer, seorang filsuf Jerman dari Mazhab Franfurt. Bahwa media massa dan kemajuan teknologi yang dibalut kapitalisme adalah sebab timbulnya budaya komersialisasi. Seperti scopus, atas nama pencerahan sangat penting membangun budaya kekayaan intelektual. Walau semua itu, tidak lain hanya bertujuan untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya.

Padahal, pencerahan itu sendiri bisa dikritisi sebagai kebohongan massal. Karena salah satu ciri dari industri budaya yang dikomersialisasi adalah munculnya sistem komodifikasi dengan standarisasi tertentu. Dengan dalih gengsi ddan reputasi internasional, scopus pun menjajah para dosen dan kalangan kampus. Sebuah ilusi yang terbalut dalam kekayaan intelektual.

Lalu siapa yang berani mengkritisi? Bahwa scopus pun menjadi bagian penjajahan intelektual. Sehingga kalangan kampus pun terjerat intimidasi kapitalis global. Memangnya, seberapa penting karya ilmiah atau literatur harus ter-indeks scopus? Bila para dosen di Indonesia meneliti tentang life sciences, social sciences, physical sciences, dan health sciences. Lalu, kenapa harus ngotot ke scopus? Kenapa tidak focus pad acara implementasinya atau kontribusnya terhadap ilmua pengetahuan sebagai solusi kehidupan manusia Indoesia sendiri.

Maka terjadilah diskusi di kalangan dosen di kampus. Bahwa scopus itu bergengsi. Karena. diakui internasional, bereputasi, dan diminati banyak akademisi. Tapi di saat yang lain, tidak ada diskusi tapi hanya dibenamkan di kepala. Bahwa scopus juga berbiaya tinggi, akses publikasinya pun rumit, dan butuh waktu lama. Lalu, timbul keresahan di sebagian besar dosen atau peneliti. Karena harus merogoh kocek besar agar bisa karya iliahnya ter-indeks scopus. Jadi sulit naik pangkat. Itulah bukti, scopus telah menjajah dosen dan kampus di Indonesia.

Dulu, wilayah dan raga Indonesia dijajah secara fisik. Kini, intelektual yang dimiliki anak Indonesia dijajah secara intelektual. Mungkin, ada benarnya kawan saya bilang scopus itu “penindasan intelektual yang berlebihan”. Yah, begitulah adanya.

Saya berpendapat, scopus tidak begitu penting. Karena sebagai dosen, seperti kawan saya itu, yang penting dosen tidak boleh “kehilangan” tradisi akademis di kampus, Sebuah budaya atau sikap hidup yang selalu mencari kebenaran ilmiah melalui kegiatan akademik di kampus dan harus mampu mengabdikan kepada masyarakat. Tradisi akademis yang berpijak pada kebebasan berpikir, keterbukaan, pikiran kritis-analitis, rasional, objektif namu tetap kreatif dan inovatif. Ilmu pengetahuan yang ditempa di kampus namun mampu diimplementasikan di masyarakat.

Maka dosen dan kampus, tetaplah focus pada tradisi akademis. Bukan pada scopus. Agar dosen dan kampus, lebih mau menghargai pendapat orang lain, mau membaca dan menulis, bersedia menambah ilmu dan wawasan, mau meneliti dan mengabdi kepada masyarakat, dan bersedia menjadikan “mengajar” sebagai kegiatan yang menyenangkan.

Dosen dan kampus, harusnya menjadikan tradisi akademis sebagai prioritas daripada scopus yang telah menjajahnya. Dan lebih dari itu, ada persoalan besar yang lebih penting di perguruan tinggi daripada mengejar scopus. Bila kita tidak mau menjajah, kenapa kita bersedia dijajah

Maka belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pun menyepakati usulan melepaskan diri dari ketergantungan jurnal ilmiah yang harus terindeks internasional, seperti scopus. Sebagai realisasi dari prinsip “merdeka belajar”. Nadiem bertekad kuat untuk membebaskan para dosen di Indonesia dari penjajahan Scopus. Agar ada kesadaran dan ruang terbuka untuk “membesarkan” jurnal ilmiah di Indonesia sendiri. Tapi bila yang internasional mampu, tentu juga tidak masalah.

Scopus memang bisa dilihat secara pro-kontra. Bila perlu diperdebatkan. Tapi semuanya, terpulang kepada dosen dan kalangan kampus untuk menyikapinya. Idealnya, perguruan tinggi sebagai basis tradisi akademis pun tidak boleh terjajah oleh scopus. Proses belajar yang tidak terdistorsi oleh administrasi intelektual, ketimbang kesadaran intelektual itu sendiri. Dosen dan kampus hari ini, memang harus bergeser dari cara-carai tekstual (qauliyah) kea rah yang lebih kontekstual (kauniyah).

Karena siapapun, belajar hakikatnya adalah untuk memperbaiki diri. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.