by

Mark Up Jumlah Warga Belajar, LSM Laporkan PKBM ke Dinas Pendidikan

Hallobogor.com, Megamendung – Sejumlah Pusat Kegiatan Belajar masyarakat (PKBM) saat ini tengah menjadi sorotan publik, pasalnya pusat belajar itu diduga memanipulasi jumlah warga belajar.

Penjelasan Ketua Forum PKBM Kabupaten Bogor, Budiantoro menyebutkan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor telah menerima laporan dari Lembaga Swadaya masyarakat (LSM) terkait adanya dugaan jumlah mark up warga belajar (WB) di beberapa PKBM yang ada di Kabupaten Bogor.

“Ada LSM yang melapor terkait dengan jumlah WB, dan saat ini Dinas pendidikan sedang melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terkait laporan tersebut,” ujar nya.

Budiantoro menjelaskan, jika ada satu PKBM yang memilki jumlah siswa lebih dari 300 itu sangat memungkinkan, karena PKBM menampung warga yang tidak tercover oleh pendidikan formal.

“Bisa saja jika WB di salah satu PKBM lebih dari segitu, karena memang menampung warga yang tidak bersekolah di lembaga formal,” ungkapnya.

Terkait aturan, mekanisme dan jumlah WB, lanjut Budi, bisa dilihat atau langsung ditanyakan ke dinas pendidikan. Selain itu keabsahan WB tidak harus dibuktikan dengan KTP dan Kartu Keluarga, yang pasti bisa dilihat dari ijazah yang bersangkutan.

“Tidak harus dibuktikan dengan KTP atau KK tapi bisa dilihat dari ijasah akhir WB tersebut,” paparnya.

Beberapa PKBM seolah enggan dimitai komentar terkait jumlah WB, seperti yang terjadi di PKBM Prima Lestari, Desa Sukagalih Kecamatan Megamendung, tempat belajar warga tersebut digembok dan kosong.

Bahkan Ketua PKBM Prima Lestari, Dedi, enggan memberikan jawaban ketika dihubungi lewat pesan singkat Whats aap (WA) dan sambungan telpon selulernya.

Hal itu mendapat reaksi dari Komunitas Pepeling. Lewat Ketua Bidang Pendidikan, Sofwan, dalam menegaskan, seharusnya Pengelola PKBM tersebut bisa memberikan informasi, dan bersifat terbuka.

“Seharusnya Pengelola PKBM bisa memberikan informasi terkait lembaga pendidikan yang dikelolanya, kalau terkesan tertutup begitu malah akan menimbulkan spekulasi yang membingungkan,” pungkas nya. (wan).