by

Indonesia akan Diterjang Banjir Pengangguran pada Akhir Tahun Ini

Hallobogor.com, Jakarta – Selama pandemi Covid-19 di Indonesia, masyarakat lebih banyak dipekerjakan dirumah. Bahkan ada pula yang harus diberhentikan dari pekerjaannya.

Namun siapa sangka, hingga akhir tahun ini Indonesia diprediksi akan menerima hingga 11 juta pengangguran. Melalui Country Manager Jobstreet Indonesia, Faridah Lim menyebut, proyeksi pengangguran itu sejalan dengan hasil survei terhadap 5.000 orang pencari kerja yang dilakukan beberapa waktu lalu.

“Kami banyak melihat informasi. Diprediksi, akhir tahun ini pengangguran bakal meningkat 4 juta-5 juta itu akan mencapai 11 juta. Ini adalah angka yang sangat signifikan,” ungkap Faridah dalam diskusi virtual, pada Kamis (8/10/2020).

Berdasarkan hasil survei yang ada, mayoritas tenaga kerja atau sekitar 54 persen dari mereka terkena dampak dari pandemi Covid-19, yang sampai saat ini belum juga berakhir. Detailnya, 35 persen pekerja diberhentikan secara permanen atau PHK dan 19 persen dirumahkan oleh perusahaan.

“Itulah data yang kami dapatkan, bahwa valid terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) dari dunia usaha,” tutur Faridah.

Ia juga memaparkan sejumlah sektor yang terdampak covid-19, di antaranya perhotelan, pariwisata, tekstil, makanan dan minuman (mamin), serta arsitektur. Dunia usaha terdampak karena ada pembatasan aktivitas di ruang publik.

Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan mayoritas atau sebanyak 32.66 persen perusahaan telah mengurangi jam kerja mereka di masa pandemi Covid-19. Hal ini untuk mengurangi biaya operasional di tengah turunnya pendapatan saat pandemi.

Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS Nurma Midayanti mengatakan informasi tersebut berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan BPS beberapa waktu lalu kepada ribuan pelaku usaha. Sementara, 17.06 persen perusahaan merumahkan karyawannya tanpa dibayar.

“Kemudian diberhentikan dalam waktu singkat ada 12.83 persen, perusahaan yang merumahkan karyawan dengan pembayaran upah sebagian ada 6.46 persen, dan perusahaan merumahkan karyawan dengan upah dibayar penuh ada 3.69 persen,” terang Nurma.

Nantinya kondisi ini akan berdampak pada jumlah pekerja di beberapa subsektor industri. Beberapa sektor yang dimaksud, seperti perdagangan, reparasi, perawatan mobil, industri kertas dan barang dari kertas, industri farmasi, produk obat kimia dan tradisional, angkutan udara, agen pos, pos komersial, penyediaan akomodasi, termasuk mamin.

Dari sisi pekerja lainnya, hasil survei menunjukkan 56,4 persen pekerja masih tetap bekerja di masa pandemi. Kemudian, jumlah masyarakat yang menganggur adalah 22,74 persen dan 2,52 persen terkena PHK.

Sementara, Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan Sumiyati memprediksi jumlah pengangguran bertambah sekitar 5.23 juta orang untuk skenario sangat buruk pada 2020. Kemudian, untuk skenario berat, jumlah pengangguran diproyeksi naik 4.03 juta orang.

BPS juga mencatat jumlah pengangguran sekitar 6.88 juta pada Februari 2020. Artinya, jika ada kenaikan 4 juta-5 juta orang, maka jumlah pengangguran dapat mencapai lebih dari 12 juta orang tahun ini.(rad)