by

Lembaga Mahasiswa UIKA Bogor Diskusi Santai Bareng Wawalkot

Hallobogor.com, Kota – Lembaga Mahasiswa UIKA Bogor melakukan audiensi dengan Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Bogor, jalan Pajajaran, Jumat (10/07/2020).

Dalam diskusi yang berlangsung santai tersebut, Ketua BEM UIKA Bogor, Riski Abi Sofyan didampingi beberapa mahasiswa menanyakan beberapa hal. Pertama, mengenai penataan ruang kota, pengembangan dan perbaikan jaringan infrastruktur dan transportasi, peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, perkembangan Covid-19 di Kota Bogor dan Ketiga, Perpanjangan PSBB transisi (AKB) adaptasi kebiasaan baru.

Menjawab pertanyaan tersebut, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menjelaskan, pembangunan infrastruktur di Kota Bogor pembiayaannya ada dari beberapa sumber, salah satunya APBD Kota. Sumber pemasukan Pemkot Bogor ada dari PBB-P2, BPHTB, pajak dan retribusi.

“Itu yang utama. Tapi dalam kondisi Covid-19 ini dari target Rp 1 Triliun baru Rp 200 Miliar atau 30 persennya,” katanya yang didampingi Sekretaris Disperumkim Kota Bogor, Soni Nasution.

Dalam proses tender pembangunan di Kota Bogor, dia dan Wali Kota Bogor menegaskan tidak ikut campur. Namun dia mengingatkan kepada jajarannya agar dalam prosesnya harus adil dan berintegritas.

“Untuk itu jika sudah memegang kepercayaan dan jabatan harus memberikan kualitas terbaik, karena uang ini dari rakyat untuk rakyat,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedie menyebutkan bahwa jumlah penduduk Kota Bogor saat ini ada 1,1 juta penduduk. Secara de facto Kota Bogor merupakan Ibu Kota negara karena Presiden RI menetap dan berkantor di Istana Bogor.

Mengenai program penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), Pemkot Bogor ingin mengangkat marwah PKL menjadi pemilik kios. Sebab saat ini ada sekitar 600 PKL, dan 200 PKL diantaranya warga Bogor.

“Jadi kebanyakan PKL dari luar Bogor, ini terus kita benahi. Contohnya di Jalan Pedati kita rapikan,” kata Dedie.

Selain itu, Ketua GTPP Covid-19 Kota Bogor ini menginformasikan ada 19 pembangunan yang tertunda akibat Covid-19, seperti pembangunan Masjid Agung Bogor.

Untuk masa Adaptasi Kebiasaan baru (AKB) yang mulai berjalan, menurut Dedie harus disikapi secara benar-benar dan bijak serta direspon dengan langkah yang komprehensif.

Hal ini tidak terlepas adanya prediksi dari para ahli epidemiologi yang mengatakan bahwa puncak pandemi akan terjadi pada Januari 2021 dengan jumlah terkonfirmasi kurang lebih 72 ribu orang.

“Untuk itu kita berharap dan terus berupaya agar jangan sampai prediksi tersebut benar-benar terjadi,” harap Dedie.

Diakhir Dedie mengajak mahasiswa untuk membentuk forum kajian di bidang sosial, ekonomi, politik dan bidang lainnya agar bisa saling diskusi bertukar pikiran. (bgr)