by

Mendambakan Keadilan Sosial

Oleh : Jaya Suprana, pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Syukur Alhamdullilah, saya beruntung tergolong warga Indonesia yang bisa menikmati nikmatnya kemerdekaan Indonesia. Namun sayang setriliun sayang, tidak semua sesama warga Indonesia seberuntung saya.

Masih banyak warga Indonesia belum bisa menikmati nikmatnya kemerdekaan Indonesia. Kenyataan tersebut merupakan bukti tak terbaabahwa sila ke lima Pancasila yaitu Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia belum terejawantahkan di persada Nusantara masa kini . Untuk sementara ini Keadilan Sosial hanya hadir secara terbatas untuk sebagian kecil rakyat Indonesia.

Keberpihakan
Berdasar dukungan dari para sahabat seperti Prof. Frans Magnis Suseno, Prof. Mahfud MD, Prof. Salim Said, Dr. Yasonna Laoly, aktivis senior Haryono Kartohadiprojo S.H, pejuang kemanusiaan Ignatius Sandyawan Sumardi, pejuang kebudayaan Aylawati Sarwono dll, saya sempat mencoba ikut berpihak kepada para warga yang belum menikmati nikmatnya kemerdekaan Indonesia.

Maka saya berupaya ikut mencegah jangan sampai warga Bukit Duri digusur secara sempurna melanggar hukum. Namun kemudian saya harus menghadapi kenyataan bahwa diri saya cuma seorang insan manusia yang tidak berdaya apa pun.

Terbukti pada tanggal 28 September 2016, saya tak berdaya mencegah warga Bukit Duri digusur secara sempurna melanggar hukum akibat de facto mau pun de jure tanah dan bangunan yang digusur masih dalam proses hukum di Pengadilan Negeri mau pun PTUN.

Tidak kurang dari Prof Mahfud MD dan DR. Yasonna Laoly menegaskan bahwa tanah dan bangunan yang masih dalam proses hukum dilindungi undang-undang agar jangan disentuh apalagi digusur dengan alasan apa pun juga. Jika nekad digusur berarti penggusur melakukan pelanggaran hukum secara sempurna.

PN & PTUN
Namun rasa terharu yang menyelinap ke lubuk sanubari saya agak terhibur setelah kemudian PN mau pun PTUN resmi terpilih gugatan warga Bukit Duri.

Saya berbesar hati tentang keadilan telah dipersembahkan kepada warga Bukit Duri yang terlanjur jatuh menjadi korban penggusuran dengan sempurna menentang hukum atas nama pembangunan.

Meskipun demikian para pendukung kebijakan penggusuran rakyat gigih melancarkan serangan jurus hubungan masyarakat demi pembunuhan karakter Bukit Duri rame-rame dihujat sebagai para pemberontak yang subversif melakukan perlawanan terhadap pemerintah.

Malah saya sebagai pihak yang berpihak kepada rakyat tergusur juga tak ketinggalan ikut-habisan dihujat sebagai tua bangka botak buncit bau tanah ingin melestarikan kemiskinan. Bahkan kemudian pihak tergugat melakukan naik banding ke Pengadilan Tinggi.

Pengadilan Tinggi
Ternyata Pengadilan Tinggi juga sepaham dengan Pengadilan Negeri dan PTUN untuk memenangkan gugatan rakyat kecil.

Maka rasa bersyukur saya bertambah dengan rasa bangga pada negara saya diklaim mewakili hukum yang menjunjung tinggi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga hukum idak tajam ke bawah sambil tumpul ke atas.

Saya bangga sebagai bangsa Indonesia telah mempersembahkan keadilan yang sesuai dengan patung Dewi Keadilan memegang keadilan dengan mata tertutup sehingga tidak memandang bulu terhadap siapa pun juga yang mempertimbangkan mempermasalahkan sepenuhnya.

Namun pihak tergugat tetap gigih tidak mau kembali lagi kemudian naik banding kali ini ke Mahkamah Agung.

Mahkamah Agung
Kali ini, saya benar-benar kena batunya! Ternyata Mahkamah Agung sama sekali tidak sepaham dengan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi akan menghukum Pengadilan Tata Usaha Negara.

Secara sempurna bertolak belakang dengan vonis PN, PT dan PTUN, ternyata MA memenangkan pihak yang tergugat yang sudah divonis gagal oleh majelis hakim PN, PTUN dan PT.

Vonis MA membantah dengan sorak-sorai gegap-gempita oleh para pendukung kebijakan menggusur rakyat namun di sisi lain menentang deraian air mata para warga miskin yang telah kehilangan tempat bermukim dan digusur, sesuai dengan hukum pembangunan nama.

Banjir
Pada musim musibah banjir, juga tampak jurang terlihat sosial. Ada warga yang beruntung karena bermukim di kawasan yang bebas banjir namun ada pula yang kurang beruntung karena bermukim di kawasan yang menerima banjir.

Yang kurang beruntung masih terbagi menjadi dua nasib. Yang bernasib kurang beruntung kebanjiran namun berhasil bernasib cukup bisa langsung mengungsi ke hotel.

Yang bernasib kurang beruntung kebanjiran sambil juga beruntung bernasib miskin harus pasrah tidak bisa mengungsi ke hotel. Segenap fakta semakin meyakinkan saya Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia sebagai sila Pancasila memang belum terwujud.

Saya bersyukur sebagai warga negara Indonesia dapat ikut menikmati nikmatnya negara kemerdekaan, negara dan rakyat Indonesia. Namun demikian, saya tetap merasa bangga.

Masih banyak sesama rakyat Indonesia belum dapat ikut menikmati nikmatnya kemerdekaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia. Sila ke lima Pancasila untuk sementara ini masih berbunyi Keadilan Sosial Untuk Sebagian Kecil Rakyat Indonesia saja.

Insya Allah, kita semua sebagai warga negara Indonesia segera melepaskan hubungan saling membenci, saling melecehkan, saling menghujat, saling memfitnah demi bersatupadu dalam gigih berjuangawantahkan sila ke lima Pancasila agar dapat digunakan di persada Nusantara nan gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta raharja. MERDEKA!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.