by

Oh Rupanya Ini Alasan Ki Jalu yang Ingin PSBB Kab Bogor Segera Dihentikan

Hallobogor, com. Pamijahan – Untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) berbagai upaya dilakukan pemeritah salah satunya dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB ). Masyarakat merespon hal tersebut secara beragam.

Pimpinan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Madaniah menilai PSBB Kabupaten Bogor tidak efektif lagi. Lulu Azhari Lucki yang akrab dengan nama sapaannya Ki jalu itu mengungkapkan, sebaiknya Bupati Bogor tidak memperpanjang PSBB, dikarenakan sudah tidak efektif.

“Dengan adanya kebijakan pemerintah pusat melonggarkan transportasi, jelas membuat interaksi orang semakin tinggi dan banyak,” katanya.

Kijalu menilai, PSBB yang bertujuan untuk menekan jumlah orang berinterkasi baik antar-individu maupun antar-wilayah. Lalu lintas mobil yang tetap bisa lolos pos pemeriksaan. penjagaan ketat hanya dilakukan pada jam-jam tertentu.

“Seperti itu tidak efektif karena, aturannya terlalu panjang dan lama. Dan tidak jelas, terlebih kepada masyarakat kecil yang mencari sesuap nasinya melalui sebagai pekerja buruh harian lepas.” Papar kijalu.

“Sektor ekonomi terhenti atas kebijakan itu, kebijakan atas PSBB tidak sepenuhnya ditaati masyarakat saat ini, seperti satu toko buka, tetapi toko lain tutup. Orang berkerumun di satu toko yang buka, dan itu tidak ada artinya apa yang mau dibatasi, jelas sekali interaksi antar manusia tetap saja.,” tandasnya.

Alasan lain Ki Jalu, menyebut PSBB sudah tidak efektif adalah, kebijakan itu malah memicu problem sosial akibat bantuan sosial carut marut, akhirnya yang menjadi bulan-bulaan itu, RT dan RW.

“Atas keterbatasan yang menerima serta jelas akan merata dan salah sasaran, terlebih pemegang kebijakannya sendiri malah bingung sendiri, dengan dalih salah data,” imbuhnya.

“Dari pada tidak jelas, buat apa kebijakan PSBB, dipertahankan, karena membingungkan masyarakat oleh regulasi yang aneh-aneh dan bergulirnya pansus atas dampak covid – 19 yang digagas DPRD bukan hanya wacana serta opini,” ujarnya.

Ki Jalu menambahkan, Dampak lain dari itu aparat jenuh saat menjaga pos pemeriksaan, sehingga mudah emosi ketika menghadapi masyarakat yang bandel. Tapi sisi lain, masyarakat juga mulai jenuh karena tak bebas berpergian, dan tidak menutup kemungkinan kasus seperti yang di jonggol akan terulang,” pngkasya. (wan).