by

Panca Pandawa Ban Bumi, Menghitung Angka di Prasasti Batutulis

-Budaya-1,165 views

Hallobogor.com, Bogor Selatan – Kisah berawal saat Adolf Winkler, seorang kapten VOC (Perusahaan Dagang Belanda) tertarik untuk menyelusuri peta lokasi “bekas kerajaan Pajajaran’ yang sebelumnya dilakukan oleh Sersan Scipio bersama pasukannya. Untuk mencapai tujuannya, Winkler membawa serta seorang ahli ukur, 16 orang pasukan Eropa, serta 26 anak buah yang sebagian besar didatangkannya dari Makassar.

Pada 25 Juni 1690, rombongan tim ekspedisi pimpinan Winker tiba di sebuah daerah yang kita kenal sebagai Batutulis. Di lokasi ini mereka mendapati sebuah batu prasasti setinggi dua hasta yang memuat informasi penting yang berhubungan dengan sejarah Sunda Kuna. Penemuan batu bertulis itu kemudian dicatat dalam Daghregister 1690.

Catatan Adolf Winkler mengenai penemuan prasasti batu bertulis itu pun mengundang perhatian para peneliti Eropa untuk menyelidikinya. Namun saat itu, penelitian mereka hanya terbatas pada bentuk dan letak batu tulis tersebut, tidak membahas isi tulisan dan tahun pembuatannya.

Lokasi Prasasti Batutulis Bogor, sekitar sebelum tahun 1900. (Foto : Instagram @potolawasofficial)

Penelitian mengenai tulisan di batu tulis itu sendiri baru dilakukan pada tahun 1817 oleh Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles. Hasil penelitian itu dituangkannya dalam karya monumentalnya yang berjudul The History of Java. Dalam bukunya itu, Raffles melampirkan transkripsi dari prasasti Batutulis sebagai objek penelitiannya. Raffles juga menyebutkan kalau batu prasasti itu dalam kondisi kurang baik saat ditemukan.

Baca : Menyaksikan Hancurnya Kraton Pajajaran dari Gunung Gadung

Apa yang disebutkan Raffles mengenai kondisi batutulis ini ditentang oleh seorang sarjana Belanda, R.Friederich dalam tulisannya “Verklaring van de Batoe-toelis van Buitenzorg” yang terbit di jurnal ilmiah Tijdschrift voor Indische taal-,land-,end volkenkunde, I.1853. Ia justru menganggap kalau tulisan yang ada di batu prasasti itu masih cukup layak dibaca. Selain itu, ia juga membuat alih aksara dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Belanda lengkap dengan transkripsinya di tahun 1853.

Baca juga : Fakta dan Cerita Seputar Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran

Prasasti Batutulis berisikan sembilan baris susunan yang bertuliskan Jawa Kuna dan berbahasa Sunda Kuna, namun tidak seluruh tulisannya bisa terbaca dengan sempurna. Salah satu aksara yang masih menjadi bahan perdebatan para ahli adalah satu aksara di depan frasa ban yang hanya tampak tanda diakritik (Pepet). Perdebatan tersebut terutama menyangkut candrasengkala atau penentuan tahun dari prasasti Batutulis tersebut. Candrasengkala itu berbunyi panca pandawa ban bumi.

C.M.Pleyte seorang etnolog Belanda memiliki pemikiran lain yang dituangkannya dalam Het Jaartal op den Batoe-toelis nabij Buitenzorg, yang terbit di jurnal Tijdschrift voor Indische taal-land-, en volkenkunde, LIII, 1911. Dalam tulisannya, Pleyte menafsirkan aksara yang tidak terbaca di depan kata “ban” adalah huruf A, lalu ia menyisipkan huruf M di antara kata tersebut sehingga membentuk kalimat emban / amban. Pleyte memperkirakan bahwa kata emban berasal dari angka empat sesuai dengan jumlah para punakawan yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.

Dengan demikian, aksara sengkalan itu berarti: Panca (5), Pandawa (5), Emban (4), dan Bumi (1), sehingga bisa ditafsirkan bahwa tahun dituliskannya prasasti itu adalah tahun 1455 Caka atau 1533 Masehi. Prasasti Batutulis tahun 1770 Akan tetapi, apa yang ditafsirkan Pleyte itu disanggah oleh sejarawan Hoesein Djajadiningrat. Beliau inilah yang menjadi pribumi pertama yang melakukan penelitian dan pengkajian terhadap prasasti Batutulis di Bogor.

Ia menuangkan pemikirannya itu dalam disertasi Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten tahun 1913 di Rijksuniversiteit Leiden. Hoesein berpendapat bahwa ngemban lebih layak memiliki angka tiga (3), sehingga angka di tahun prasasti Batutulis adalah 1355 Caka atau 1433 M. Pendapat berbeda dikemukakan oleh seorang ahli epigrafi Poerbatjaraka. Dalam De Batoe-Toelis bij Buitenzorg jurnal TBG (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap), 59, 1920, dia menyebutkan bahwa frasa ngemban adalah dua (2).

Dasar pemikirannya adalah arti kata ngemban yang bermakna mengendong atau mengemban/mengutus selalu memiliki jumlah dua yaitu menggendong dan digendong, serta mengutus dan yang diutus, sehingga Poerbatjaraka memperkirakan bahwa tarikh prasasti Batutilis adalah 1255 Caka atau tahun 1333 M.

Merujuk pada pendapat Hoesein bahwa angka tahun di prasasti Batutulis bertepatan dengan naik tahtanya Niskala Wastukancana (1363-1467), sementara Poerbatjaraka berpendapat bahwa angka tahun di prasasti tersebut berkaitan dengan masa Prabu Maharaja (1350-1357) yang gugur di lapangan Bubat.

Hasan Djafar, ahli epigrafi yang selalu melakukan kajian terhadap prasasti peninggalan kerajaan Sunda ini mengungkap bahwa kedua pendapat tersebut jauh berbeda dari informasi yang tertulis dalam batu prasasti tersebut. Menurutnya, isi prasasti menyebutukan bahwa prasasti ini dibuat pada masa Prabu Surawisesa (1521-1535) untuk mengenang jasa-jasa Prabu Ratu, cucu dari Niskala Wastukancana yang mangkat di Nusalarang. Prabu Ratu kemudian dinobatkan dengan nama Prabu Dewataprana, dan kembali dinobatkan menjadi Sri Baduga Maharaja yang mangkat di Gunatiga.

Dari hal tersebut, disimpulkan bahwa angka yang paling mendekati adalah angka tahun 1533, sama seperti yang diperkirakan oleh Pleyte. Prasasti Batutulis berada di daerah Batu Tulis, Kota Bogor. Batu prasasti ini memiliki tiga bagian isi, yaitu :

1. Manggala atau pembuka yang memuat seruan wang na pun dan permohonan keselamatan kepada Dewa.

Sambandha atau tujuan pembuatan prasasti sebagai tanda peringatan (sakakala) untuk mendiang Sri Baduga Maharaja atas jasa-jasanya dalam membuat parit

2. pertahanan yang mengelilingi ibukota Pakuan-Pajajaran, membuat jalan yang diurug oleh batu-batuan, membuat hutan larangan atau samida, dan membuat Telaga Warna Mahawijaya.

3. Candrasengkala atau titimangsa yang bertuliskan panca pandawa ngemban bumi berangka 1455 Caka atau 1533 M. (Sumber : Sejarahbogor.com)

Oleh : Aries Munandi, Owner Sejarahbogor.com

Napak Tilas Karuhun : Punya kisah dan cerita seputar Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi atau ingin meluruskan sejarah — jika ada koreksi. Atau punya versi lain, karena bisa jadi cerita berasal dari mulut ke mulut secara turun-temurun. Tulis dan kirimkan kepada redaksi kami. Haturnuhun.