by

Pesantren Berpotensi Besar untuk Majukan Ekonomi Syariah

Hallobogor.com, Bandung – Jumlah pesantren di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 29 ribuan pesantren, di mana 75% di antaranya berada di kawasan Jawa tersebar mulai dari ujung timur hingga barat. 

Saat ini, sebagian pesantren tidak lagi hanya berperan sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan, tetapi juga sebagai tempat pemberdayaan sosial ekonomi bagi santri dan lingkungan sekitar.

Usaha pemberdayaan tersebut dapat dijumpai dengan berbagai pola mulai dari bisnis yang berpusat pada bisnis keluarga para Kyai, bisnis untuk memperkuat pendapatan pesantren, sampai bisnis untuk memberi bekal para santri selepas mereka keluar dari pesantren.

Beberapa pesantren tersebut telah menunjukkan keberhasilan dalam pengembangan bisnisnya yang ragam sektornya bervariasi mulai dari sektor pertanian, sektor makanan-minuman sampai sektor jasa. 

“Suatu prestasi yang patut kita syukuri sekaligus kita cermati bersama agar kesinambungannya dapat terpelihara ke depan. Kesinambungan atau sustainability ini dapat dicapai jika sayap-sayap bisnis pesantren-pesantren tersebut memiliki daya saing yang memadai,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jabar, Herawanto, Senin (05/10/2020).

Dalam mendukung upaya peningkatan daya saing, salah satu langkah penting adalah penguatan kelembagaan dari sayap bisnis pondok-pondok pesantren tersebut. Khususnya di wilayah Jawa, salah satu contoh penguatan tersebut adalah pembentukan Sarekat Bisnis Pesantren dalam bentuk koperasi sekunder di Jawa Timur dan Serikat Ekonomi Pondok Pesantren di Jawa Barat. 

Menyadari hal tersebut, sebagai bagian dari bauran kebijakannya, Bank Indonesia merancang Blueprint Ekonomi dan Keuangan Syariah dan telah diimplementasikan sejak tahun 2017, dengan visi mendukung terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah global. 

Dalam Blueprint tersebut, kerangka strategis pengembangan didukung tiga pilar utama yang saling terkait. 

Pilar Pertama berupa Pemberdayaan Ekonomi Syariah, Pilar Kedua berupa Pendalaman Pasar Keuangan Syariah, dan Pilar Ketiga terkait Riset, Asesmen dan Edukasi. Ketiga pilar utama ini diperkuat dengan penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi serta akselerasi jangkauan implementasi.

Sejalan dengan implementasi Blueprint Ekonomi dan Keuangan Syariah tersebut, Bank Indonesia kembali menyelenggarakan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2020 sebagai salah satu rangkaian kegiatan Road to Indonesia Syariah Economic Festival (ISEF) 2020, yang merupakan gelaran berskala nasional berupa showcase capaian berbagai kegiatan di bidang ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. 

Fesyar Regional Jawa 2020 merupakan hajatan bersama Bank Indonesia dengan berbagai pemangku kepentingan di 5 provinsi se-Jawa telah memasuki kali ke-7, namun pertama kalinya dilaksanakan secara virtual dan akan berlangsung selama 6 (enam) hari, sejak 5 sd 10 Oktober 2020 dengan mengambil tema “Akselerasi Peran Ekonomi Syariah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Regional”.  

Rangkaian Fesyar Regional Jawa 2020 terdiri dari Sharia Forum dan Sharia Fair. Sharia Forum merupakan rangkaian kegiatan seminar, talkshow & workshop serta business coaching, sedangkan Sharia Fair menghadirkan virtual expo, fashion show, coaching clinic dan business matching. Gelaran Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2020 secara resmi dibuka oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo dan dihadiri oleh seluruh Kepala Daerah dan Pimpinan Bank Indonesia di wilayah Jawa. 

Di awal acara, seluruh Kepala Daerah di 5 provinsi di wilayah Jawa menyampaikan sambutan dan komitmen mengenai upaya yang telah dilakukan dalam mendukung akselerasi peran ekonomi syariah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan bahwa dalam rangka mendukung akselerasi ekonomi dan keuangan syariah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Bank Indonesia di wilayah Jawa Barat (mencakup BI Tasikmalaya dan BI Cirebon) telah mengimplementasikan berbagai program untuk menjadikan Jawa Barat sebagai poros pendidikan ekonomi keuangan syariah di Indonesia melalui berbagai program ekonomi keuangan syariah yang berfokus pada kesejahteraan ekonomi rakyat. 

Program dimaksud antara lain One Product One Pesantren (OPOP) untuk membangun kemandirian Pondok Pesantren di Jawa Barat melalui pemberdayaan ekonomi umat dengan cara program pelatihan, pendampingan, produksi, pemasaran yang tepat sasaran dan modern. (jbr)