by

Pesantren Daarussa’adah Persiapkan Generasi yang Mandiri

Hallobogor.com, Cikidang – Manfaat terpenting dari anak masuk di pondok pesantren adalah menanamkan nilai-nilai agama untuk anak-anak.

Maraknya kasus kenakalan remaja, pergaulan bebas saat ini bisa menjadi pemicu utama bahwa nilai-nilai agama sangatlah penting untuk kehidupan. Apalagi tidak ada agama yang mengajarkan tentang keburukan.

Di dalam pondok pesantren, anak-anak akan dididik untuk mengatur keuangannya dan kehidupannya sendiri di asrama. Mulai dari mencuci baju, uang jajan, membersihkan kamar, piket kamar mandi atau piket mengambil makanan.

Baca : Berita dan Informasi Seputar Kota dan Kabupatan Sukabumi

Kegiatan sehari-hari yang biasanya dibantu oleh kedua orangtua, harus mereka jalani sendiri di asrama. Nanti ketika hidup merantau, tentunya mereka tidak akan kesulitan lagi untuk menjalani kehidupannya sehari-hari.

Demikian dikatakan pimpinan pondok Pesantren Daarussa’adah KH. Nurdin Abdul Munir, yang beralamat di kampung Cikidang, RT 01/08 Desa Cikidang, kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat.

Di Pondok Pesantren Daarussa’adah ini, tidak kurang dari 40 (empat puluh) orang santri dan santriwati mondok. Para santrinya, tidak hanya dari wilayah Sukabumi saja. Tetapi ada yang dari luar daerah, seperti; Bekasi, Cianjur dan daerah lainnya di Jawa barat.

“Untuk jumlah santri putra Putri kurang lebih 40 orang yang mondok, yang paling jauh dari Bekasi, Cianjur dan sebagian lagi wilayah Sukabumi,” kata KH. Nurdin Abdul Munir, Minggu (19/7/2020) siang saat ditemui di kediamannya.

Untuk aktivitas para santrinya dalam menjalani kegiatan sehari-hari di pondok pesantren. Lanjutnya, para santri melakukan pengajian setiap waktu. Sehabis Dzuhur, ashar, magrib, isya, dan Subuh.

“Untuk durasi waktunya sendiri, ada yang satu jam, satu jam setengah dan dua jam,” ujarnya.

Untuk memanggil para santrinya di pondok pesantren Daarussa’adah ini, pimpinan pondok punya kode panggilan tersendiri dan bisa dikatakan unik. Yaitu, dengan memukul kentongan.

“Kalau kentongan dipukul tiga kali, santri langsung turun dan aktivitas mengaji. Satu kali pukul libur,” katanya.

Di pondok pesantren salafiyah ini, para santri tidak hanya diajarkan mengaji kitab kuning saja. Tetapi ada ekstra kurikuler (ekskul) yang diikuti semua santri. Seperti; belajar dakwah, kaligrafi, qori, dan marawis yang langsung mendatangkan guru/pelatih sesuai bidangnya.

Khusus ekskul belajar kaligrafi, dakwah dan aktivitas lainnya sehari-hari oleh dirinya sendiri.

Sederet prestasi santri di bidang kaligrafi pernah diraihnya, salah satunya menjuarai lomba kaligrafi dari tingkat kecamatan, kabupaten, bahkan di tingkat provinsi Jawa barat.

“Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita di pondok pesantren, berkat kedisiplinan santri dalam belajar, dan kebanggaan buat si santri,” ucapnya sambil memperlihatkan deretan piala.

Tidak terasa waktu terus berjalan, seiring waktu santri pun terus bertambah. Dirinya menceritakan waktu pertama mendirikan pesantren 15 tahun yang lalu tepatnya tahun 2005. Berjalan beberapa bulan, bulan ke 6 (enam) mulai ada santri yang mondok.

“Setelah bangunan pondok pesantren berdiri, 6 bulan setelah itu baru ada santri 1 orang,” kenangnya.

“Legalitas sendiri, baik ijin operasional dan legalitas hukum yayasan sudah dikantongi karena langsung dilengkapi,” terangnya.

Saat ditanya mengenai harapan dan keinginan kedepan mengenai pesantrennya itu, dirinya mempunyai keinginan untuk menambah perluasan bangunan pesantren, dan memperbesar majelis.

“Santri bertambah, otomatis kebutuhan para santri pun baik putra atau putri bertambah,” jelasnya.

Pada saat musim kemarau, dirinya pun sempat mengeluh karena kurangnya pasokan air bersih untuk kebutuhan para santri dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Untuk Air bersih, langsung narik dari sumur, dari sini (pesantren-red) ke lokasi sumur berjarak kurang lebih 120 meter dan agak menanjak.

“Kalau musim kemarau, otomatis airnya makin berkurang. Kalau sudah keadaan seperti itu, kita terpaksa ‘beli’ sumur, tidak sedikit mesin pompa rusak karena air di sumur kering, jarak yang jauh dan nanjak. Kalau dihitung-hitung, pernah sampai 15 kali ganti mesin pompa air,” pungkasnya. (adj)