by

Riwayat Kampung Sindangbarang, Menurut Naskah Kuno Pantun Bogor

-Budaya-1,310 views

Hallobogor.com, Tamansari – Kampung Sindangbarang terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan naskah Pantun Bogor Curug Sipada Weruh, Sindangbarang sudah disebut-sebut pada jamannya pemerintahan Rakean Darmasiksa atau Prabu Wisnu Barata yang bermukim di kota Pakuan pada abad XII.

Pada jaman Prabu Wisnu Barata perkembangan agama Sunda tumbuh pesat dengan dituliskannya 3 kitab suci agama Sunda yaitu Sambada, Sambawa dan Winasa yang terdiri dari 800 ayat.

Baca : Di Sinikah Lokasi Kerajaan Pakuan Pajajaran yang Sesungguhnya?

Kutipan Pantun Bogor memberitakan :

ikukuhan Agama Sunda dituliskeun dina Layang Sambawa, Sambada, Winasa, dituliskeun ku Parabu Wisnu Barata. Nya inyana anu tukang tapi ti ngogora. Nyainyana anu sanyeunyana ngagalurkeun jadi kabehan pada ngarti agama ani kiwari disebut Agama Sunda Pajajaran tea. …”

Baca juga : Kisah, Cerita, Sejarah, dan Fakta Seputar Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi

Pada masa Pemerintahan Rakean Darmasiksa, beliau memerintahkan membuat undakan-undakan suci di Sindangbarang.

Kutipan Pantun Ki Kamal mengatakan :

Ulah Sindangbarang geusan tata pangkat diganti deui, Sang Pamanah Sang Darmajati, tanah lemah tutup bumi , tutup buana dat mulusna….”

Artinya : Jangan Sindangbarang sebagai tempat awal Agama Sunda diganti lagi, yang menyucikan Pendeta Sang Darma Jati, tanah tempat penaung Dunia, pengayom alam kesempurnaan.

Kata-kata dalam rajah tersebut mengindikasikan bahwa Sindangbarang dikategorikan “tempat suci” bahkan dianggap sebagai Penaung Dunia dan pengayom dari segala kesempurnaan.

Disebutkan pula penata kesuciannya bernama Sang Darma Jati. Rakean Darmasiksa digantikan oleh keponakannya Prabu Kalang Carita atau yang disebut juga Prabu Ragasuci.

Pada masa Prabu Raga Suci beliau juga memerintahkan membuat Punden Agung di daerah Sindangbarang. Pantun Bogor Tunggul Kawung Bijil Sirung menceritakan beginì:

Prabu Kalang Carita, nyieun Pamujan Agung di Mumunggang Giri Dwi Munda Mandala, Sajajaran jeung Taman, Disebutna Mandala Sanghyang Parakan Jati, Satonggoheun Talaga Sanghyang Tampian Dalem nyela bumi ti Kuta Babaton.”

Artinya: Prabu Kalang Carita memerintahkan membuat Pamujan Agung di kaki lereng Giri Dwi Munda Mandala, berdampingan dengan Taman dinamai Mandala Sanghyang Parakan Jati sebelah atasnya Sanghyang Talaga Tampian Dalem menyilang dari Kuta Batu.

Pantun Gede Ki Uyut Juru pantun Tunggul Kawung Bijil Sirung juga menceritakan:

Balalayan Sanghyang Parakan Jati, Mandala Suci Pamujan kadatuan Sindangbarang saluareun dayeuh Pakuan. Saha tah anu ngeuyeukna..? Nya Inyana Pandita Agung anu ngaran inyana Sang Kumara Jati tea. Nya inyana oge anau ngabebenah Sanghyang Talaga Tampian Dalem salebakeunana,” (Babayalan Sanghyang Parakanjati, Mandala Suci Kadatuan Sindangbarang sebelah luar kota Pakuan. Siapa yang mengurusnya? Dialah PendetaAgung yang namanya Sang Kumara Jati. Dialah yang memperindah Sanghyang Talaga Tampian Dalem di sebelah bawahnya,”

Berita ini memperjelas bahwa entitas Sindangbarang sebagai tempat suci memiliki Punden Agung Sanghyang Parakan Jati dan Sanghyang Talaga Tampian Dalem.

Adapun Pendeta Kumara Jati dan Darma Jati merupakan orang yang sama. Mandala tersebut merupakan tempat peribadatan Agama Sunda di wilayah Kadatuan luar Dayeuh Pakuan, Kadatuan Surabima Sindangbarang.

Saat ini di Sindangbarang telah ditemukan lebih kurang 33 buah Punden Berundak yang tersebar di Wilayah Desa Pasir Eurih. Punden-punden berundak inilah yang diceritakan oleh Pantun Bogor. Sebagian Punden Berundak ini masih ada yang utuh dan sebagian lagi tinggal separo karena rusak ditelan jaman.

Adapun sisa peninggalan Kadatuan di Sindangbarang lainnya berupa Taman Sri Baginda dan Sumber air Jalatunda, yang cenderung masih utuh. Taman Sri Baginda adalah sisa taman Kerajaan Sindangbarang berupa Kolam berukuran panjang 45 meter dan lebar 10 meter, sumber airnya berasal dari Jalatunda.

Dahulu kala diatas Taman Sri Baginda terdapat Balai Mercukunda yaitu Balai Kambang berbentuk segi delapan tempat beristirahatnya Keluarga Raja.

Mengenai Sumber air Jalatunda, Pantun Bogor menceritakan bahwa pada jaman Kerajaan, setiap Putra Mahkota harus tapa direndam dalam air Jalatunda selama 40 hari 40 malam.Bila lulus dari tapa tersebut maka diperkenankan untuk menjadi Raja yang berikutnya.

Mengenai Sanghyang Talaga Tampian dalem, saat ini masih ada berada di Lembur Taman. Berupa Telaga yang luasnya hampir 6 Ha, dahulu ketika saya SMA di pinggiran telaga tersebut masih terdapat Dinding batu yang mengitari Telaga.

Sayangnya Revitalisasi Telaga Taman yang dilakukan Pemda menghancurkan dinding batu tersebut dan diganti dengan Beton.(Sumber : Maki Sumaawijaya, Pupuhu di Kampung Budaya Sindangbarang). (yan)

Alamat : Kampung Budaya Sindang Barang Berada di Jalan E Sumawijaya, Desa Pasir Erih,Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor – Jawa Barat

Napak Tilas Karuhun : Punya kisah dan cerita seputar Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi atau ingin meluruskan sejarah — jika ada koreksi. Atau punya versi lain, karena bisa jadi cerita berasal dari mulut ke mulut secara turun-temurun. Tulis dan kirimkan kepada redaksi atau hubungi whatsApp kami. Haturnuhun